Nomor : 030/B-WALHI – NTT/IX/2012

Lampiran : –

Perihal : Pernyataan Sikap

 

 

Kepada Yth.

Rekan-Rekan Pers

Di –

Tempat Masing-Masing

 

 

Salam Adil dan Lestari!

Hampir setiap tahun, sebagian besar wilayah NTT mengalami kekeringan. Ini terjadi karena NTT adalah deretan pesisir dan pulau-pulau kecil yang tentunya kekeringan pada musim hujan, dan akan longsor, banjir di musim hujan.

Namun, bukan berarti bahwa kemudian setiap komponen warga, terutama pemerintah provinsi dan pemkab se-NTT melihat ini sebagai sesuatu yang normal. Tetapi, seyogyanya menjadikan ini sebagai landasan sekaligus pemicu dalam mendesain pola pembangunan yang berbasis pulau-pulau kecil. Keterbatasan pangan dan air yang dialami setiap tahun hendaknya menjadi landasan kongkret dalam menemukan sebuah pola pengelolan sumber daya alam yang tepat.

Apabila hal ini tidak menjadi perhatian serius, di tengah permasalahan perubahan iklim (climate change) dan pemanasan global (global warming) maka akan berisiko pada kehilangan pulau.

Karena itu, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) NTT ingin menyikapi permasalahan ini dengan beberapa catatan bahwa:

  1. Bahwa pemerintah provinsi NTT dan Pemkab se-NTT mestinya melihat ini sebagai permasalahan serius yang perlu direspon dengan pola pengelolaan sumber daya alam yang berbasis bio-region sesuai dengan ekologi pulau-pulau kecil;

    Untuk itu, menajemen pengelolaan sumber daya alam yang dilakukan di NTT menghindarkan industri-industri ekstraktif (pertambangan) yang mana akan merusak bentangan alam (land scape) dan memperburuk kondisi hutan di NTT. Lebih dari itu, hidrologi air di NTT akan mengalami perubahan yang akan memperparah kondisi kekeringan di NTT;

  2. Bahwa Pemerintah Provinsi NTT dan Pemkab se-NTT telah memiliki sebuah penataan ruang kelola yang baik dan Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS), karena ini menjadi fondasi dalam penataan ruang kelola, sehingga ada ruang yang dilindungi untuk menjaga kelestarian ekosistem, sedangkan yang lainnya diperuntukan sebagai ruang kelola rakyat atau menjadi sumber penghidupan rakyat;

  3. Bahwa Pemerintah Provinsi NTT dan Pemkab se-NTT harus melakukan evaluasi dan perhitungan ulang terhadap luas kawasan hutan dan kawasan kelola rakyat. Apabila dalam evaluasi ditemukan adanya degradasi lingkungan maka perlu dilakukan pemulihan ekologi dengan penanaman kembali pada kawasan lindung dan perlindungan terhadap seluruh ekosistem.

  4. Permerintah Provinsi NTT dan pemkab se-NTT perlu melakuan terobosan dengan membuat sebuah penataan yang komprehensif dan mengutamakan keselamatan lingkungan dan keselamatan rakyat. Dan itu perlu didukung dengan analisa resiko terhadap setiap proses pengelolaan sumber daya alam yang mau dilakukan.

 Kupang, 21 Septermber 2012

Herry Naif

Direktur WALHI NTT

 

 

Dipublikasi di Pernyataan Sikap | Meninggalkan komentar

Program “Tak Rela Mereka Lapar”

TAK RELA MEREKA LAPAR
oleh: WALHI NTT & WTM

Gambaran Sikka
Topografi Kabupaten Sikka sebagian besar berbukit, bergunung, dan berlembah dengan lereng-lereng yang curam yang umumnya terletak di daerah pantai. Kondisi kemiringan tanah (kelerengan) cukup bervariasi, berkisar dari 0% hingga 70% dan didominasi oleh kemiringan tanah yang lebih besar dari 40% dengan luas 81.167 ha atau sekitar 46,87%  dari total luas wilayah Kabupaten Sikka.
Beriklim tropis seperti pada daerah-daerah lain di Indonesia pada umumnya. Suhu berkisar antara 27°C – 29°C. Kecepatan angin rata-rata 12–20 knots.  Musim panas biasanya berlangsung 7 hingga 8 bulan (April/Mei– Oktober/November) dan musim hujan kurang lebih 4 bulan (November/Desember – Maret/April). Curah hujan per tahun berkisar antara 1.000 mm – 1.500 mm, dengan jumlah hari hujan sebesar  60-120 hari per tahun.
Wilayah Kabupaten Sikka memiliki 4 (empat) jenis tanah yakni jenis tanah mediteran, litosol, regosol dan jenis tanah kompleks. Namun lebih didominasi oleh jenis tanah mediteran seluas 79.176 Ha (45,71%), sedangkan tekstur tanah didominasi oleh tanah bertekstur kasar dengan luas 108.609 Ha atau sekitar 62,71%.
Jenis penggunaan tanah yang terdapat di wilayah Kabupaten Sikka terdiri dari beberapa jenis penggunaan tanah, namun didominasi lahan pertanian yaitu seluas 90.138 Ha (52,05%), sedangkan penggunaan tanah lainnya yaitu kawasan hutan seluas 38.442,43 Ha (22,20%), semak belukar seluas 23.745 Ha (13,71%) dan lain-lain seluas 20.865,57 Ha (12,05%).
Pada tahun 2007, jumlah penduduk mencapai  295.134  jiwa (139.123 laki-laki dan 156.011 perempuan) 71.220 kk. Jumlah penduduk miskin 56.100 jiwa. Pendapatan per kapita penduduk Kabupaten Sikka atas dasar harga berlaku sebesar Rp 4.538.457,00.
Dalam usaha mengurangi kemiskinan, pemerintah telah berupaya keras dan konsisten untuk meningkatkan hasil-hasil pembangunan di desa-desa, terutama pada sektor pertanian serta koperasi dan UKM. Ada begitu banyak program yang dicanangkan pemerintah, namun belum mampu membantu masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup dan secara signifikan menurunkan angka kemiskinan/ ketidak berdayaan petani. Hal ini disebabkan oleh kurangnya kemampuan teknis pengelolaan serta kurangnya partisipasi masyaraat miskin dalam berbagai program pembangunan.
Selain itu, upaya penanggulangan kemiskinan juga berhadapan dengan beberapa hal krusial antara lain:
a.Topografi wilayah kabupaten Sikka sebagian besar terdiri atas bukit-bukit dengan kemiringan yang cukup tajam rata-rata di atas 40%.
b.Perubahan iklim (climate change) yang melanda dunia; Hujan yang biasanya mulai sekitar Novemer – April, sekarang menjadi tidak menentu. Beberapa tahun terakhir telah terjadi perubahan musim yang sangat besar. Perubahan iklim tentunya berpengaruh pada tingkat keberhasilan usaha tani lahan kering, yang mana sangat bergantung pada hujan. Banyak petani salah menafsir waktu tanam sehingga mengalami gagal panen.
c.Rata-rata kepemilikan tanah per kepala keluarga tani seluas 0,5 – 2 ha. Mayoritas lahan yang dimiliki adalah lahan kering yang miring, sehingga pada musim hujan sangat rentan terhadap erosi dan berdampak pada degradasi tanah.
d.Pengelolaan usaha tani yang tidak memperhatikan keseimbangan alam mengakibatkan kesuburan tanah berkurang dan akhirnya mengakibatkan rendahnya produksi tanaman.

Kondisi yang digambarkan di atas berakibat pada:
a.Kurang/menurunnya hasil tanaman pangan & hortikultura yang disebabkan oleh
Minimnya kemampuan dan pengetahuan petani mengelola usaha tanaman padi, jagung, umbi-umbian, kacang-kacangan;
Kurang adanya diversifikasi usaha tanaman pangan yang tidak didukung pasokan bibit pangan lokal,
Minimnya pengembangan pangan local dan tanaman buah-buahan.
b.Kurang/menurunnya hasil tanaman perdagangan yang disebabkan oleh:
Jumlah tanaman perkebunan  masih kurang
Rendahnya pengetahuan dan ketrampilan petani mengelolaan usaha tani;
Tanaman perkebunan sering mengalami kerusakan akibat serangan hama dan penyakit sehingga dapat mengurangi hasil produksi sampai 50%-75 %.
c.Kurangnya Hasil ternak yang disebabkan oleh :
Ternak mati diserang penyakit; penyakit Tetelo (ayam) dan Hoc Kolera (babi). mengakibatkan kematian sampai 80%. Serangan penyakit menceret, perut kembung (kambing) dapat mengakibatkan kematian sampai 30%.
Pengetahuan tentang pemeliharaan ternak masih kurang
Terbatasnya jumlah/jenis ternak yang dimiliki petani

Kenyataan-kenyataan tersebut di atas sangat berpengaruh pada pemenuhan hak-hak dasar (pangan, pendidikan, kesehatan dan perumahan) untuk meningkatkan kualitas hidup layak  bagi keluarga tani.
Selain itu  permasalahan angka pertumbuhan penduduk kabupaten Sikka setiap tahun cukup tinggi dan mayoritas masyarakat bekerja di sektor pertanian. Hal ini memaksa masyarakat memperluas lahan pertanian. Perluasan lahan pertanian telah merambah daerah yang seharusnya dilindungi guna melindungi ekosistem (flora dan fauna) dan memberikan suplai air untuk pemenuhan kebutuhan air bersih dan air untuk daerah persawahan.
Permasalahan kemiskinan dan kerusakan lingkungan berdampak pada kerusakan ekosistem dan menurunnya debit air menjadi persoalan yang semakin sulit diatasi sepertinya menyimpan bom waktu yang suatu saat akan meledak.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) NTT dan Wahana Tani Mandiri (WTM) melihat bahwa persoalan ini terjadi akibat sistem pengelolaan usaha tani yang dikembangkan tidak memperhatikan kelestarian lingkungan (pada areal sekitar mata air), yang mana terjadi penebangan hutan secara sembarangan baik secara legal maupun ilegal (destructive logging) pada daerah hutan lindung dan sekitarnnya.  Kerusakan yang terparah dirasakan masyarakat petani saat ini adalah wilayah sekitar DAS di Kabupaten Sikka. Degradasi lingkungan di sekitar kawasan DAS berpengaruh terhadap tingkat pemanfaatan air oleh masyarakat, terutama berdampak pada kekurangan air untuk konsumsi dan irigasi. Penurunan debit air terjadi pada musim kemarau. Dimana Sebagian areal persawahan mengalami kekeringan. Krisis ini kemudian menimbulkan konflik horizontal dan sosial oleh masyarakat huluh dan hilir.
Selain itu degradasi lingkungan disekitar DAS juga memiliki andil peningkatan produksi gas carbon yang berdampak pada perubahan iklim global yang telah menghadiakan gagal panen bagi petani di kabupaten Sikka tahun ini.
Dari semua ulasan diatas, permasalahan terbesar yang dihadapi masyarakat petani ke depan adalah bencana rawan pangan. Ketersediaan pangan petani menjadi tidak cukup untuk menafkai keluarga tani dalam setahun. Petani tidak memiliki akses lain untuk mendatangkan uang guna membeli bahan makanan.
Sebagai respon atas krisis, petani dalam keterbatasannya melakukan perluasan lahan pertaniaan dengan harapan memperoleh hasil yang lebih banyak dan penebangan kayu untuk dijual menjadi alternatif yang tak dapat mereka hindari. Selain itu, pilihan untuk mengkonsumsi umbi hutan yang beracun dan putak enau adalah jalan yang harus mereka ambil karena kebutuhan untuk makan harus dipenuhi pada musim paceklik.
Kondisi ini menggambarkan bahwa petani kita belum berdaulat secara ekonomi. Di tengan kondisi mereka yang tidak berdaulat secara ekonomi sudah pasti pemenuhan hak-hak dasar lain seperti pendidikan, kesehatan, perumahan yang layak serta partisipasinya dalam berbagai sendi pembangunan mengalami permasalahan.
Padahal, sedari dulu diceritakan bahwa petani memiliki sistem produksi dan penyimpanan pangan yang cukup untuk setahun. Malah pada musim paceklik sekalipun para petani tetap meliliki pasokan pangan yang cukup, tidak membutuhkan pasokan pangan dari luar. Namun kampanye beras sentris kemudian secara tidak langsung mengubah paradima masyarakat sehingga perlahan meninggalkan pangan lokal yang bertahan terhadap hama dan mampu bertahan dalam penyimpannya.Kita  harusnya malu ketika ada petani yang lapar, yang tidak memiliki cadangan pangan dan mengambil barang beracun untuk dikonsumsi.
Berbagai program yang dikembangkan tidak lagi melihat pada budaya yang dikembangkan oleh petani. Pengembangan jagung di Kabupaten Sikka khususnya dan NTT umumnya tidak lagi berorientasi pada pemenuhan kebutuhan pangan dan lebih berorientasi pada komoditi ekonomi. Hal ini kemudian mengalihkan pengembangan jagung tidak lagi jenis jagung local ke jagung hybrid/komposid. Banyak petani mengeluh karena jagung tersebut ternyata tidak tahan simpan. Keluhan ini sebenarnya mau menyampaikan bahwa kebutuhan/stok pangan jangka panjang patani tergagnggu. Petani butuh jagung yang bisa disimpan lama. Yang akan dipakai pada saat paceklik. Sayangnya, jagung local yang sudah turun temurun menafkai petani, sudah hampir punah seiring dengan kampanye yang dibuat untuk pemkaian jagung jenis baru yang ternyata tidak tahan simpan.
Upaya meningkatkan kemampuan pangan petani, harusnya mengembangkan program yang berpihak pada upaya pengamanan pangan. Pengembangan pangan memang harus diposisikan pada upaya untuk pemenuhan kebutuhan pangan petani itu sendiri. Bahwa ada suatu kebutuhan lain terkait pengembangan ekonomi keluarga yang harus dipenuhi. Namun Ini bukan harus menjadi suatu focus utama dalam pengembangan tanaman pangan .
Konsep pengembangan harus benar-benar mempertimbangkan permasalahan yang dihadapi oleh petani. Program harus mengedepankan beberapa kebutuhan yaitu financial, pangan dan lingkungan dalam suatu skema keberlanjutan jangka panjang. Pengembangan usaha tani petani tidak didasari suatau pendekatan sektoral yang melahirkan kepentingan sector semata. Pengembangan usaha patani harus secara holistic dari semua yang menjadi usahanya petani.
TAK RELA MEREKA LAPAR.  Suatu pilot program kerjasama Wahana Tani Mandiri dengan WALHI dan Dompet Duafa. Program ini mengedepankan pada kemampuan petani untuk berdaulat secara pangan. Mengembangkan ubi ratih dan jagung local.
TAK RELA MEREKA LAPAR Suatu pernyataan yang harus ada pada semua komponen yang menjadi stakheholdernya petani. Harus tertanam dalam diri semua komponen. TAK RELA MEREKA LAPAR harus  menjadi semangat bersama. Tinggalkanlah EGOMU. Pikirkanlah kemelaratan ini. Amin.

Kegiatan

Teknis pertanian
Dalam upaya pengembangan suatu kegiatan, hal yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan kegiatan tersebut adalah kepercayaan dan keyakinan akan teknologi yang digunakan. Kadang muncul keraguan dari masyarakat terhadap suatu tindakan teknologi yang ditawarkan oleh pihak luar. Banyak teknologi yang ditawarkan ternyata dalam pengembangannya belum tentu cacok untuk dikembangkan dan diterapkan langsung dilapangan. Cara-cara tersebut dapat dilakukan melalui motifasi pendampingan secaara rutin dengan melakukan penyuluhan, latihan dan ujicoba.
Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) NTT dan Wahana Tani Mandiri dalam pengembangan kegiatan bersama masyarakat di kecamatan Mapitara dan Doreng, Kabupaten Sikka, didahului dengan penyuluhan secara berkala, kunjungan kebun, latihan-latihan serta uji coba teknologi usaha tani petani yang didasarkan pada hasil uji coba teknologi pertanian yang telah di buat dan dikembangkan selama ini.
WTM dalam pendampingan pengembangan usaha tani petani selalu memotifasi serta memperdayakan masyarakat tani untuk menggunakan produk-produk organik yang murah dan mudah didapat serta ramah lingkungan.
Kegiatan program “Tak Rela Mereka Lapar” tahap II,memberikan dukungan semangat bagi anggota kelompok juga pemerintah setempat dalam melakukan berbagai upaya penanggulangan persoalan petani. Dalam berbagai aktifitas program selalu diikutsertakan staf pemerintahan desa untuk bersama-sama mendiskusikan dan memberikan saran serta motifasi agar peran masyarakat dalam menerima program “Tak Rela Mareka Lapar” harus proaktif. Pemerintah Desa juga akan menyiapkan dana untuk berbagai kegiatan pelatihan pengembangan usaha tani serta dana vaksinasi ayam  setiap tiga bulan. Hal tersebut dipertegas kembali oleh Camat Mapitara dan ketua DPR Kabupaten Sikka Rafael Raga pada saat pertemuan Forum Tani di Wisa, desa Hebing, bahwa dalam Musrengbangdus masyarakat bisa mengusulkan anggaran untuk pemberdayaan terhadap usaha tani masyarakat. Kegiatan Forum Tani menghasilkan dukungan dari berbagai pihak dalam pengelolaan usaha tani yang didasarkan pada pelestarian sumber-sumber penghidupan dan pelestarian alam.
Berdasarkan permasalahan yang muncul dan harapan-harapan kedepan yang ingin dicapai, maka WALHI NTT dan WTM selalu melakukan pendekatan langsung ke kelompok tani sehingga ada beberapa hal yang disepakati akan menjadi rangkaian sebuah kesepakatan bersama dalam pendampingan program “Tak Rela Mareka Lapar”menuju harapan baru dalam perubahan hidup petani.

Penyuluhan dan Latihan Usaha Tani.
Usaha tani yang dikembangkan masyarakat Mapitara dan Doreng, masih mengalami banyak permasalaahan. Hal ini disebabkan oleh  kurangnya pemahaman masyarakat petani dalam mengembangkan usaha tani.
Untuk itu dalam program ini dilakukan penyuluhan usaha tani yang dilakukan  di kelompok/dusun dalam wilayah program :
Adapun kegiatan penyuluhan tersebut dapat dirinci sebagai berikut :
WILAYAH
WAKTU
TEMPAT
JENIS KEGIATAN
JUMLAH PESERTA
DESA Egon Gahar
Rabu,14 /03/ 2012
Dusun Ragasoru (Klpk. Lero Bekor Watu Diran dan Wain Talin
Demonstrasi Pemangkasan Kakao dan Renovasi Kakao Menggunakan Entris
26 Orang

24 Maret 2012
Dusun Ragasoru (Klpk. Lero Bekor Watu Diran dan Wain Talin
Demonstrasi Pemangkasan Kakao dan Renovasi Kakao Menggunakan Entris
17 Orang

26 Maret 2012
Baokkrenget Klompok Wuli Lado
Demonstrasi Pemangkasan Kakao dan Renovasi Kakao Menggunakan Entris
11 Orang

04/09/12
Baokkrenget Klompok Wuli Lado dan Sinar Soge
Penyuluhan dan Latihan Vaksinasi Ayam Buras
25 Orang

04/12/12
Dusun Ragasoru (Klpk. Lero Bekor Watu Diran dan Wain Talin
Penyuluhan dan Latihan Vaksinasi Ayam Buras
20 Orang
Desa Hebing
14 Maret 2012
Dusun Hebing Kelompok Ru’u Laling, Cinta Sesama
Pemangkasan Kakao dan Renovasi Kakao Menggunakan Entris
23 Orang

23 Maret 2012
Watu Baler, Kelompok Hewer Limang
Pemangkasan Kakao dan Renovasi Kakao Menggunakan Entris
15 Orang

04/04/12
Hebing, Kelompok Ru’u Laling, Cinta Sesama, Watu Wawit
Penyuluhan dan Latihan Vaksinasi Ayam Buras
30 Orang

04/06/12
Watu Baler Kelompk Hewer Limang
Penyuluhan dan Latihan Vaksinasi Ayam Buras
15 Orang

04/15/12
Hebing: Klpk. Watu Wawit
Penyuluhan dan Latihan Vaksinasi Ayam Buras
25 Orang
Desa Hale
14 Maret 2012
Napung Kontas, Klompok Baosilat, Poto Gepung, Maget Bersatu
Pemangkasan Kakao dan Renovasi Kakao Menggunakan Entris
26 Orang

22 Maret 2012
Napung Kontas, Kelompk Baosilat, Poto Gepung
Pemangkasan Kakao dan Renovasi Kakao Menggunakan Entris
18 Orang

22 Maret 2012
Watu Wolot, Klompok:Natar Mage
Pemangkasan Kakao dan Renovasi Kakao Menggunakan Entris
14 Orang

7 Aprill2012
Napung Kontas, Kelompk Baosilat, Poto Gepung
Penyuluhan dan Latihan Vaksinasi Ayam Buras
22 Orang

04/07/12
Watuwolot, Kelompok Maget Bersatu
Penyuluhan dan Latihan Vaksinasi Ayam Buras
18 Orang
Desa Natakoli
15 Maret 2012
Natakoli, Kelompok Dole Kloang, Kajuwair, Kloangklorot
Pemangkasan Kakao dan Renovasi Kakao Menggunakan Entris
22 Orang

19 Maret 2012
Umatawu:  Kelompok Dole Kloang, Kajuwair, Kloang klorot
Pemangkasan Kakao dan Renovasi Kakao Menggunakan Entris
14 Orang

21 Maret 2012
Natakoli. Kelompok Dole Kloang, Kajuwair, Kloangklorot
Pemangkasan Kakao dan Renovasi Kakao Menggunakan Entris
9 Orang

21 Maret 2012
Wolomotong:kelompok kloang Klorot, Bola Wir, Tuke Le’er
Pemangkasan Kakao dan Renovasi Kakao Menggunakan Entris
12 Orang

4 Apriil 2012
Umatau, kelompok Kaju Wair, Popo Wolot, Tada Huper
Penyuluhan dan Latihan Vaksinasi Ayam Buras
18 Orang

04/05/12
Wolomotong. Kelompok Kloang Klorot
Penyuluhan dan Latihan Vaksinasi Ayam Buras
9 Orang

5 Maret 2012
Natakoli, Kelompok Dole Kloang
Penyuluhan dan Latihan Vaksinasi Ayam Buras
11 Orang
Desa Nenbura
15 Maret 2012
Doreng, Kelompok Sedang Berkembang, Tunas Baru
Pemangkasan Kakao dan Renovasi Kakao Menggunakan Entris
18 Baru

16 Maret 2012
Hepang, Klompok Nukak Noeng
Pemangkasan Kakao dan Renovasi Kakao Menggunakan Entris
22 Orang

17 Maret 2012
Hebar, Kelompok Hiro Heling, Ru’u Laling II
Pemangkasan Kakao dan Renovasi Kakao Menggunakan Entris
9 Orang

04/02/12
Doreng:Kelompok Sedang Berkembang, Tunas Baru
Penyuluhan dan Latihan Vaksinasi Ayam Buras
17 Orang

04/03/12
Hepang: Kelompok Nukak Noeng
Pemangkasan Kakao dan Renovasi Kakao Menggunakan Entris
13 Orang

Pendampingan kelompok dan usaha tani
Pendampingan kelompok lebih diarahkan pada pembenahan managemen kelompok. Motifasi diberikan kepada kelompok untuk mengembangkan usaha tani secara baik dengan pendekatan kelompok.  Rujukan pendampingan yaitu pada rencana kerja atau program kelompok.
Selain itu dalam hal teknis, selain penyuluhan yang bersifat umum di kelompok atau dusun, juga dilakukan pendampingan di kebun petani bagi yang mengalami masalah dalam usaha taninya.

Vaksinasi ayam
Dalam budaya masyarakat Sikka, ayam menjadi sangat penting artinya karena urusan adat harus ada ayam. Dan dalam tutur kata adat untuk usaha tani, juga disebutkan tentang budaya beternak ayam.
Namun pengembangan ayam kurang berkembang karena ayam banyak mati pada setiap pergantian musim. Kondisi ini membuat masyarakat tani menjadikan ternak ayam sebagai usaha sampingan.
Untuk mengatasi masalah tersebut, dilakukan kegiatan vaksinasi ayam.  Hal ini akan menjawab semua persoalan ternak ayam yang sedang terjadi, dan akan memotifasi masyarakat tani untuk lebih giat dalam mengelola usaha pemeliharaan ayam secara semi intensif.

Dalam upaya vaksinasi ini ada beberapa  kegiatan yang dilakukan yaitu::
Penyuluhan tentang Pemeliharaan ayam
Penyuluhan ini lebih difokuskan pada pemeliharaan yang baik. Hal – hal yang disampaikan dalam penyuluhan ini yaitu pengembanmgbiakan ternak ayam, perkandangan dan upaya pencegahan penyakit. Sehingga ayam tidak diibiarkan atau dilepaskan begitu saja. namun untuk menjaga keselamatan ayam sebaiknya dibuat kandang agar tidak terserang penyakit..

Penjelasan tentang Vaksinasi
Penjelasan ini lebih menekankan pada proses dan syarat dalam vaksinasi ayam.
Kegiatan vaksin ayam dilakukan di setiap dusun untuk anggota kelompok yang memiliki ayam. Tujuannya memberikan kekebakan terhadap ayam ,terhindar dari penyakit pengaruh iklim global yang terus-menerus. Ayam yang divaksin selalu dalam keadaan sehat dan apabila kondisi sakit akan mati saat divaksin. Bagi anggota yang tidak memiliki ayam diharapkan secepat mungkin untuk mendapatkannya.
Ayam divaksin 3 bulan sekali dalam setahun. Vaksin pertama dilakukan pada bulan Mei, selanjutnya pada bulan September dan Desember agar ayam tetap sehat, terhindar dari penyakit yang dipengaruhi iklim yang tidak tentu.
Vaksin yang benar dibuat melalui proses pencampuran larutan dan obat dengan menggunakan spoit ( jarum suntik ) dan termos khusus untuk menyimpan bahan dan alat vaksin. Setelah divaksin di isi kembali dalam termos agar suhu tetap dingin.

Pengadaan termos dan peralatan vaksin
Untuk mendorong terlaksananya kegiatan vaksinasi ayam yang berkelanjutan, salah satu yang dilakukan adalah dengan menyediakan peralatan vaksin berupa termos vaksin bagi kelompok tani yang dibagikan tanggungjawabnya kepada para kader tani.
Setiap dusun mendapat dukungan termos dua buah. Jumlah termos vaksin yang diadakan seluruhnya sebanyak 14 buah

Pelaksanaan Vaksinasi
Untuk mengatasi solusi terhadap kematian ayam dilakukan pendampingan usaha tani dengan melakukan kegiatan vaksinasi ayam perdusun dengan jumlah anggota 167 dengan jumlah ayam yang divaksin 941 ekor dengan kegiatan sebagai berikut :
a)Hari/Tgl : Rabu/23 Mei 2012, Desa/Dusun Egongahar/Ragasoru
Nama Klpk : Lero Bekor, Peserta yang hadir : 6 orang
Topik : Vaksinasi ayam
b)Hari/Tgl : Kamis/24 Mei 2012, Desa/Dusun Hebing/Hebing
Nama klpk : Watuwawit dan Cinta Sesama, Peserta yang hadir : 25 orang
Topik : Vaksinasi ayam
c)Hari/Tgl : Kamis/25 Mei 2012, Desa/Dusun Natakoli/Natakoli
Nama klpk : Namang Hebar, Peserta yang hadir : 14 orang
Topic : Vaksinasi ayam
d)Hari/Tgl : Jumad/26 Mei 2012, Desa.Dusun Hale/Napunkontas
Nama klpk : Baosilat, Peserta yang hadir 9 orang
Topik : Vaksinasi ayam
e)Hari/Tgl : Sabtu/27 Mei 2012, Desa/Dusun Hale/Watuwolod
Nama klpk : Natermaget, Peserta yang hadir 14 orang
Topik : Vaksinasi ayam
f)Hari/Tgl : Selasa/28 Mei 2012, Desa/Dusun Natakoli/Umatawu
Nama klpk : Kajowair dan Popowolot, Peserta yang hadir : 30 orang
Topic : Vaksinasi ayam
g)Hari/Tgl : Selasa/29 Mei 2012, Desa/Dusun Hebing/Watubaler
Nama klpk : Hewer Limang, Peserta yang hadir : 18 orang
Topik : Vaksinasi ayam
h)Hari/Tgl : Rabu/30 Mei 2012, Desa/Dusun Nenbura/Doreng
Nama klpk : Sedang berkembang dan Tunas baru, peserta yang hadir 17 orang
Topic : Vaksinsi ayam
i)Hari/Tgl : Jumad/01 Mei 2012, Desa/Dusun Nenbura/Hepang
Nama klpk : Nukak Noeng dan Nahar Bekor, Peserta yang hadir : 22 orang
Topik : Vaksinasi ayam
j)Hari/Tgl : Senin/04 Mei 2012,Desa/Dusun : Natakoli/Wolomotong
Nama Klpk :  Kloang Kloro ,Peserta yang hadir : 12 orang

DATA VAKSINASI AYAM
HARI/
TANGGAL
LOKASI
JUMLAH AYAM
JUMLAH TERMOS
BESAR
KECIL

RABU/23/05/2012
DUSUN  RAGASORU,
DESA EGON GAHAR
11

KAMIS/24/05/2012
DUSUN  HEBING,
DESA HEBING
60

KAMIS/24/05/2012
DUSUN NATAKOLI,DESA NATAKOLI
41
53
JUMAD/25/05/2012
DUSUN NAPUNKONTAS,
DESA HALE
26
19
SABTU/26/05/2012
DUSUN  WATUWOLOD,
DESA HALE
65
114
SELASA/29/05/2012
DUSUN  UMATAWU,
DESA NATAKOLI
31
37
SELASA/29/05/2012
DUSUN WATUBALER,
DESA HEBING
30
45
SABTU/30/05/2012
DUSUN  DORENG,
DESA NENBURA
65
62
JUMAT/01/06/2012
DUSUN HEPANG,
DESA NENBURA
38
55
SENIN,04/06/2012
DUSUN WOLOMOTONG, DESA NATAKOLI
26
51

JUMLAH AYAM YANG DI VAKSIN
393
548

JUMLAH THERMOS VAKSIN
14 BUAH

Pengadaan Bibit Kakao
Tanaman perkebunan merupakan jenis tanaman tahunan yang mempunyai nilai ekonomis yang sangat tinggi dan umumnya digemari oleh masyarakat tani di wilayah Kabupaten Sikka.  Salah satu jenis tanaman perkebunan yang menjadi andalan Kabupaten Sikka, selain kelapa adalah kakao, namun jenis tanaman ini masih kurang banyak di tanam oleh masyarakat tani. Kakao mendapat posisi tawar dengan harga yang sangat tinggi dibanding dengan komoditi lainnya.
Salah satu upaya untuk mendorong peningkatan pendapatan petani secara cepat adalah dengan melakukan pengembangan tanaman kakao. Untuk itu, di lakukan pengadaan benih kakao dan polibeg untuk pembibitan kakao.

1.0.1.Pembibitan kakao
Strategi pengembangan tanaman kakao dalam program ini yaitu program menyediakan benih dan polibag dan petani melakukan pembibitan secara mandiri. Hal ini dinilai akan lebih memberdayakan petani. Petani belajar tentang kakao sejak di pembibitan.
Pembibitan di buat oleh masing-masing anggota.  Setiap anggota mendapat 100 bibit dan 100 polibeg. Benih yang sudah disiapkan dimasukan ke polibag yang sudah diisi dengan tanah. Masa pembibitan kurang lebih 1 tahun.

Anggota yang mendapat bibit dan polibeg berjumlah 406 orang dengan dukungan bibit kakao 40.600 biji dan 40.600 lembar polibeg.
Benih kakao dan Polibeg di distribusikan ke kelompok  dalam dua tahap :
Tahap Pertama Tanggal : 08 -15 juni 2012.
Jumlah anggota              : 126  orang dari  7 kelompok.
Jumlah benih kakao        : 12.600  biji. Polibeg  12.600  Lembar
Tahap Kedua Tanggal     : 10 -20 juli 2012.
Jumlah anggota               : 280  orang  dari  17  kelompok.
Jumlah benih kakao         :  28.000  biji. Polibeg  28.000  Lembar
DATA PENGADAAN BENIH KAKAO DAN POLIBAG

TGL
NAMA KELOMPOK
LOKASI
DUKUNGAN

DESA

DUSUN
KAKAO
POLIBEG
09/06

Popo Wolot
Natakoli
Umatawu
10/06
Kajo Wair
Natakoli
Umatawu
1500
11/06
Tada Huper
Natakoli
Umatawu
1500
12/06
Ruu Laling
Hebing
Hebing
2100
13/06
Watu Wawit
Hebing
Hebing
2300
14/06
Maget Bersatu
Hale
Maget
1600
15/06
Hewer Limang
Hebing
WatuBaler
2100
10/07
Wair Gahu
Egon Gahar
Raga Soru
700
10/07
Lero Bekor
Egon Gahar
Raga Soru
1400
10/07
Watu Diran
Egon Gahar
Raga Soru
1200
11/07
Sinar Soge
Egon Gahar
Baokrenget
1300
11/07
Wuli Lado
Egon Gahar
Baokrenget
2700
12/07
KLoang Klorot
Natakoli
Wolomotong
1500
12/07
Bola Wair
Natakoli
Wolomotong
2800
13/07
Dole Kloang
Natakoli
Natakoli
2000
13/07
Namang Hebar
Natakoli
Natakoli
2100
14/07
Bao Silat
Napun Kntas
Hale
1500
14/07
Poto Gepung
Napun Kntas
Hale
1500
15/07
S. Berkembang
Nenbura
Doreng
2000
15/07
Tahan Derita
Nenbura
Doreng
2300
16/07
Sederhana
Nenbura
Doreng
1300
18/07
Tunas Baru
Nenbura
Hepang
1000
19/07
Nahar Bekor
Nenbura
Hepang
1800
20/07
Nukak Noeng
Nenbura
Hepang
1900
J  U  M  L  A  H
40.600
40.600

Advokasi

Pemerintah Desa
Program “Tak Rela Mereka Lapar” disosialisaikan kepada pemerintahan desa, kemudian mendapatkan perhatian dan dukungan khusus, bahwa program akan berlanjut dengan model kegiatan yang berbeda. Namun dalam upaya memperkuat ketahanan pangan petani,  desa Nenbura telah mengalokasikan Rp 5.000.000,- dari dana pembangunan desa untuk pengembangan ternak ayam lewat kegiatan vaksinasi ayam dan ketahanan pangan. Sementara beberapa desa yang lain berencana pada tahun 2013 akan mengalokasikan dana untuk pengembangan pertanian.

DPRD Sikka
Dalam beberapa kesempatan diskusi dengan Ketua DPRD Sikka, didiskusikan tentang kedaulatan pangan khususnya lewat program tak rela mereka lapar. Konsep kedaulatan pangan ini mendapat sambutan yang baik, dari ketua DPRD. Ketua DPRD juga berharap agar program ini dapat  memotifasi para pihak agar lebih focus pada upaya kemandirian petani.

Pertemuan Petani
Pertemuan Forum Petani baru pertama kali diadakan di desa Hebing, Kecamatan Mapitara. Kegiatan ini dihadiri oleh masyarakat petani di Kecamatan Mapitara-Doreng, para guru serta pihak-pihak yang terlibat yang punya andil dalam forum ini terkait di dunia pertanian, peternakan termasuk dinas pemerintah dan LSM yang mampu mengatasi nasib para petani.
Kegiatan forum ini diawali dengan pemberian materi dari Ketua DPRD Kabupaten Sikka, Badan Ketahanan Pangan, dan Dinas Kehutanan untuk memberikan hal-hal yang terkait dalam usaha tani, diskusi kelompok serta pembahasan solusi yang akan menjadi solusi dan tanggung jawab adalah petani khususnya dan para pihak pemerintah dan dunia LSM.
Pertemuan petani Mapitara dan doreng dilakukan,
untuk Meningkatkan pemahaman petani tentang pengelolaan usaha tani yang berorientasi pada upaya kemandirian pangan;
meningkatkan pendapatan  petani  sebagai penguatan kapasitas financial masyarakat dalam pengembangan kualitas hidup yang lebih baik;
Meningkatkan solidaritas  petani dalam mengelola usaha tani, Meningkatkan peran serta para pihak dalam pengembangan usaha tani yang mendorong kedaulatan pangan agar tercipta  kapasitas pangan yang cukup dan berkualitas

Adapun pelaksanaan kegiatan pertemuan petani sebagai berikut :
1.Persiapan
Dalam mempersiapkan pertemuan petani, dilakukan pembentukan panitia. Dalam pertemuan awal disepakati bahwa semua pelaksanaan kegiatan pertemuan petani difasilitasi oleh panitia. pertemuan persiapan forum petani dilaksanakan 2 kali.

Pertemuan pertama           Minggu, 15 April 2012,     yang hadir   : 6 orang
Pertemuan kedua            Kamis, 19 April 2012         yang hadir    15 orang
Pertemuan ketiga      Jumat,25 Mei 2012        yang hadir    31 orang
Pertemuan keempat      Sabtu,02 Juni  2012        yang hadir  : 20 orang
Pertemuan kelima            senin,11 Juni 2012         yang hadir  : 11 orang
Pertemuan keenam      Sabtu, 16 Juni  2012        yang hadir   : 22 orang

Susunan pantia sebagai berikut :
Penanggung jawab    :  Kepala Desa Hebing
Ketua   Umum    :  Firmus Tonce  ( Ketua Kelompok Watu Wawit )
Wakil  Ketua        :  Servus Saru Sareng  (Ketua klpk Hewer Limang)
Sekretaris        :  Serfasius Nong Epi  ( Kader Tani desa Hebing )
Bendahara        :  Jelani Honorius  ( Bendahara kelompok Ruu Laling )
Seksi Undangan    :  Hermus  Peong   ( Staf Desa Hebing )
Seksi  Komsumsi    :  Felixia Mone  ( Ketua kelompok  Cinta Sesama )
Seksi Dana        :  Andreas Pareira  ( Staf Desa Hebing )
Seksi  Tenda        :  Sensimus Bajo  ( Ketua kelompok Ruu Laling )
Seksi Sound/Penerangan:  Solanus ( Anggota Kelompok Watu Wawit)
Seksi  Penginapan :Servus Saru Sareng  ( Anggota Kelompok Watu Wawit
Seksi   Acara        :  Didimus Rusman  (Anggota Kelompok Ruu Laling )
Anggota        :  Dari anggota kelompok Desa Hebing.
Dipilih oleh masing-masing ketua seksi.

CATATAN:
Biaya pertemuan petani berasal dari program” Tak Rela Mereka Lapar , sumbangan kelompok tani, dan sumbangan pihak luar, serta Swadaya Panitia.
Program Tak Rela Mereka Lapar        :   Rp. 7.000.000
Sumbangan kelompok tani Maget,
Rulaling, Cinta sesame, Hewer Limang,
dan kelompok Watu Wawit            :   Rp.    300.000
Sumbangan dari Ketua DPRD Sikka         :   Rp.    250.000
Sumbangan dari Wetland                  :   Rp.    250.000
Swadaya panitia                               :   Rp. 1.000.000

PELAKSANAAN
Hari/Tgl : Senin 18 Juni 2012 Desa/Dusun Hebing/Hebing
Peserta : 161 orang. Laki-laki  88 orang. Perempuan : 73  orang
Topic             :
Pembukaan
Seminar tentang Pangan Local, Hutan Kemasyarakatan dan Usaha Peternakan

PEMBUKAAN
Kegiatan diawali dengan penyambutan rombongan yang terdiri dari Camat Mapitara, Kepala Bidang Pemberdayaan masyarakat pada Dinas Kehutanan, Kepala seksi Ketahanan Pangan pada Badan Ketahanan Pangan, Ketua DPRD Kabupaten Sikka, para Kepala Desa serta undangan lainnya memasuki tenda acara,diiringi musik suling dan tarian daerah oleh anggota kelompok Hewer Limang, Desa Hebing. Dilanjutkan  dengan acara Huler Wair (Budaya Adat Sikka) dan dilanjutkan dengan tarian adat “ Wai Alu” oleh kelompok Natar Maget desa Hale.
1.Sambutan Panitia sekaligus Membacakan Laporan Kegiatan Forum oleh Servasius Nong Epi;
Menyampaikan tentang berbagai permasalahan petani dan rencana pertemuan. Dan mengapresiasi berbagai pihak yang telah membantu terlaksananya pertemuan khususnya Dompet Duafa,  WALHI dan WTM
2.Sambutan  Direktur Wahana Tani Mandiri,  Carolus Winfridus Keupung.
Dalam sambutannya mengatakan bahwa petani harus gegap gempita, semangat untuk mandiri dan berusaha untuk maju. Usaha tani itu mahal, walaupun dengan teknis yang sederhana namun mendatangkan keuntungan yang besar dan itu harus mencobanya. Jangan berprinsip bahwa mencoba nanti akan gagal.. Selagi masih ada waktu dan kesempatan dan mau berusaha pasti bisa,
Disampaikan bahwa program ini di gagas oleh Dompet Duafa dan WALHI. Dan berharap agar petani benar-benar serius mengembangkannya. Program ini sebenarnya member pelajaran kepada kita bahwa sesame orang miskin dapat saling membantu. Karena Dompet Duafa menghimpun dana dari kekurangan yang dimiliki oleh orang yang menyumbang.
3.Sambutan Camat Mapitara sekaligus membuka kegiatan pertemuan.
Dalam sambutan mengatakan bahwa tema Tak Rela Mereka Lapar ini sangat menarik untuk diresapi, tema ini sangat cocok dengan situasi yang ada di Doreng-Mapitara.ini forum petani,ini nasib petani,ini mati hidupnya petani oleh karena itu supaya menginginkan hidup lebih baik mari bersama-sama duduk dan mendengarkan apa yang di ucapkan oleh saudara-saudara bapak-ibu sekalian nanti agar hidup kita menjadi lebih baik.dilanjutkan bahwa petani harus gegap gempita,semangat,jangan lemah dan selalu berusaha untuk mendapatkan tujuan yang diinginkan,dan bukan hanya petani saja tetapi semua yang hadir dalam kegiatan ini sebagai informasi lanjut,bekerja keras,berkreatif,dan harus mandiri .bukan hanya mendengar tapi dengan sungguh-sungguh mau melakukannya.forum ini forum untuk petani oleh karena itu mari bersama-sama maju sehingga kita tak lapar lagi.

SEMINAR
Dipandu oleh moderator: Carolus Win Keupung.
Ketiga Nara sumber yang hadir,
Ketua DPRD Kabupaten Sikka,
Badan Ketahanan Pangan,
Dinas Kehutanan.

Materi Membangun ketahanan/kedaulatan pangan di Kabupaten Sikka oleh Badan Ketahanan Pangan
Menjelaskan bahwa ketahanan pangan adalah kondisi mempertahankan  hidup. Manusia hidup bukan hanya dari  nasi saja tetapi bisa juga dari jagung dan ubi-ubian sehingga program pertanian di Indonesia meluncurkan program baru dengan tema meningkatkan pangan lokal yang mana program tersebut sudah dijalankan, dan hampir masyarakat  tani di Kabupaten Sikka telah menerima program tersebut  dan telah melakukannya.
Sebenarnya usaha tani itu gampang Cuma dari petani yang menganggap sangat sulit, disebabkan oleh malas,tidak dengan sungguh-sungguh mengikuti sehingga penerapan di lapangan tidak ada hasil.

Materi HKM – solusi alternatif pengelolaan kawasan hutan untuk meningkatkan pendapatan dan kedaulatan pangan oleh Dinas Kehutanan
Menjelaskan tentang Hutan Kemasyarakatan (HKM). Hubungan yang menarik yang perlu ditegaskan disini adalah program HKM dapat menjawabi tema kita yaitu tak rela mereka lapar. Namun dalam pengembangan program ini masih terdapat perbedaan sikap mengenai status awal lahan yang mana terjadi beda pendapat antara pemerintah dan masyarakat adat. Sengketa lahan ini sudah lama terjadi dan berkepanjangan. Dan sebenarnya program HKM ini menjadi solusinya.
(Pemateri lebih menekankan pada sosialisai tentang HKM)

Materi Kebijakan Pembangunan Pertanian Kabupaten Sikka oleh Ketua DPRD Sikka, Rafael Raga, SP
Dalam materinya dijelaskan bahwa petani juga adalah masyarakat yang sempurna sebagai ciptaan Tuhan. Tanpa petani masyarakat lain tidak bisa hidup. Menjadi seorang petani itu betul-betul mulia. Disinggung juga tentang usaha tani dimana petani bisa mempertahankan hidup,memberikan pendidikan yang layak bagi anak.dimana-mana universial semua anak menginginkan pendidikan yang baik. Manusia diberi bekal masing-masing dengan profesi hidupnya,dengan kondisi yang demikian membuat orang harus bangkit dan maju karena tidak semua orang hidup layak. Petani harus mengerti  konsep dan apa yang harus dibuat.  Salah dalam menentukan konsep maka tidak akan menghasilkan.  Seperti  yang sudah disinggung oleh Direktur WTM  bahwa pertanian itu gampang dengan cara teknis yang  cukup mudah bisa merubah pola hidup petani asalkan mau berusaha dan bekerja dan selalu sangat ditekankan bahwa petani harus mandiri.
Pemateri juga menyampaikan tentang perlunya koordinasi dan kerja para pihak yang berhubungan dengan petani agar berbagai persoalan petani dapat diatasi. Kemiskinan, keterbatasan pangan, kekurangan gisi dan sebagainya yang masih membelenggu masyarakat khususnya petani harus diatassi.
Dalam dsiskusi, ketua DPRD juga menyampaikan tentang strategi pembangunan pertanian kabupaten Sikka. Dan akan membawa berbagai persoalan yang didiskusikan untuk dibahas dalam rapat-rapat di DPRD Sikka.

Hari  Kedua, Selasa Tanggal 19 Juni 2012 :

Peserta : 79 orang. Laki-laki:  46 orang. Perempuan  :  33 orang
Topic: Diskusi Masalah Usaha tani dan solusi

Kegiatan dipandu oleh  Carolus Winfridus Keupung, membawa peserta dalam diskusi terkait bidang pertanian dan peternakan,Kehutanan khusus di Doreng-Mapitara.
Dalam pengantar diskusi dipaparkan tentang situasi dan kondisi pertanian kabupaten Sikka khususnya Mapitara dan Doreng.

Selanjutnya Peserta mendiskusikan permasalahan yang dihadapi dalam berusaha tani. Peserta dibagi dalam beberapa group/kelompok diskusi yaitu
Bidang Pangan dan Perkebunan
Bidang Peternakan
Bidang Kehutanan
Bidang Pendampingan dan pengembangan organisaasi

Hari Ketiga,Rabu Tanggal 20 Juni 2012 :
Peserta : 79 orang. Laki-laki:  46 orang. Perempuan :  33 orang
Topic                       : Diskusi Masalah Usaha tani dan solusi

Difasilitasi Christo Gregorius  melanjutkan diskusi hari kedua yaitu pembahasan solusi. Kesempatan diberikan untuk mempresentasikan hasil diskusi.  Prosesnya adalah masing-masing ketua kelompok membacakan hasil diskusi dan didiskusikan bersama kelompok lain. Tanggapan dari kelompok berupa masukan,ide-ide atau pendapat dan beberapa pertanyaan terkait dengan masalah di lapangan.

Diskusi petani.
Banyak persoalan dan permasalahan yang dihadapi petani baik dibidang pertanian, peternakan yang mana sudah diusahakan oleh petani desa, namun disayangkan hasilnya masih belum cukup. Petani belum merasa puas. Tidak cukup membiayai hidup keluarga disebabkan oleh factor bentengan alam dan teknis budidaya yang masih kurang dan daya pikir petani masih terbatas.
Diskusi membahas masalah pertanian khusus pada tanaman pangan padi, jagung, ubi-ubian), perkebunan pada tanaman kakao dan usaha ternak padai kambing, babi dan ayam.
Ada beberapa pertanyaan teknis dan strategis langsung didiskusikan bersama tim WTM.
Adapun hasil diskusi kelompok yang didskusikan sebagai berikut :

KELOMPOK  1 : Bidang Pertanian Dan Perkebunan

Tanaman Pangan Jagung, padi, kacang tanah dn ubi-ubian

CIRI MASALAH/RESIKO

SEBAB MASALAH/RESIKO
USULAN MENGURANGI MASALAH/RESIKO
PIHAK-PIHAK YANG TERLIBAT
1. Gagal Panen
–  Perubahan iklim  yang tidak merata
– Kesuburan tanah yang tidak merata
– Terserang hama dan penyakit pelaksanaan tidak sesuai musim
–  Apabila ada masalah maka kaumpetani berusaha swadaya dan meminta bantuan dari pmerintah untuk pengadaan bibt unggul dan obat-obatan
-Melakukan pemupukan, pembuatan terasering, penghijaun kembali pada lahan yang sudah dibuka
– Pengendalian dengan  menggunakan pestisida organic, pupuk alami
–  Tumpang sari jagung, padi, kacang tanah,ubi jalar, ubi ratih ubi keladi
–  Persiapan lahan lebih awal
–  Terasering
Dinas Pemerintah,LSM,PPL
2.Pemasaran Hasil   Pertanian
– Ada masyarakat yang masih terisolir darijalur ransportasi
–  Masyaraat hanya memasarkan hasil produk hanya dipasar setempat/pasar desa sedangkan kepasar umum lainnya masyarakat tidak bisa menjangkau
–   Curah hujan tidak merata
–   Kebun pada bagian tertentu banyak batu
–   Hama walangsengit, tikus, ulat
–   Tebas bakar
– Belum ada terasering
–  Pelaksanaan adat istiadat
–   Jalur transportasi    harus diperbaiki

Tanaman Perkebunan :

CIRI MASALAH /RESIKO
SEBAB MASALAH/RESIKO
USULAN MENGURANGI MASALAH/RESIKO
PIHAK-PIHAK YANG TERLIBAT
1.Hasil Tanaman Kakao Kurang
–  Terserang hama dan penyakit (helopeltis/busuk buah)
-Kurangnya Perawatan. Jarak tanam tidak beraturan, Bibit diambil dari induk yang masih muda,Kebun kurang bersih
Pemangkasan
–  Pengendalian hama/penyakit  dilakukan sendiri-sendiri dalam waktu yang berbeda
–   Tidak ada Pohon pelindung untuk tanaman kakao
–   Banyak pohom kakao umur tua
–  Bentuk tim pengendalian hama secara bersama-sama/pengendalian kawasan
–  Peremajaan kakao
–  ditanam pohon pelindung ;pete, gamal, kalindra
–  Membuat rova
PPL, LSM, DINAS Pemerintah
2.Banyak Kakao Yang Mati
–   Hama penggerek batang
–   Kebun kurang bersih
–   Ikat ternak dalam kebun kakao
–   Kurang pengetahuan teknis
–   Tidak ada pohon pelindung
–   Bibit masih muda
–   Jarak tanam tidak teratur

–  Jarak tanam harus 3×4 m
–  Lamanya pembibitan 1 tahun
–  Harus adapohon pelindung
–  Mengikuti penyuluhan dan latihan
–  Pengendalian hama/penyakit
–  Ternak dibuat kandang, diikat jauh dari kebun kakao
–  Kebun harus dibersihkan
–  Tumpang sari
–  Persiapan bibit lebih awal

–   Mutu kakao kurang bagus
–  Kebutuhan sesaat
–  Transportas masih   kurang memadai
–  Harga  bervarisi
–  Panen kakao yang matang
–  Adanya organisasi pemasaran hasil
–  Adanya kesepakatan harga sesuai dengan mutu

KELOMPOK  2 : Bidang Peternakan

CIRI MASALAH/RESIKO
SEBAB MASALAH/RESIKO
USULAN MENGURANGI MASALAH/RESIKO
PIHAK-PIHAK YANG TERLIBAT
1.Ayam :
Lambat turun dari pohon pada pagi hari. Sering keluar air liur pada mulutnya. Buluhnya mudah rontok. Bengkak padabagian kepala. Napsu makan berkurang
Sering terjadipada bulan mei

Terserang penyakit
Mengakibatkan kematian
Pendapatan ekonomi keluarga berkurang
Minat untuk pelihara ternak berkurang

Perlu bantuan tenaga pendaming
Perlu adanya latihan vaksinasi secara terus menerus kepada masyarakat/kelompok
Perlu adanya kandang

Dinas  PPL, LSM, Dinas Pemerintah
2. Kambing :
Luka pada bagian bibir/mulut
Mata merah, perut kembung, buluh berdiri,mencret
Terjadi pada bulan oktober-april
Terserang penyakit
Mengakibatkan kematian
Pendapatan ekonomi keluarga berkurang
Minat untuk pelihara ternak berkurang

3. Babi :
Buluh babi berdiri, Kejang-kejang
Kulitnya kemerah-merahan, Terjadi pada bulan oktober-februari, Darah keluar dari mulut dan pantat
Terserang penyakit
Mengakibatkan kematian
Pendapatan ekonomi keluarga berkurang
Minat untuk pelihara ternak berkurang

KELOMPOK  3 : Bidang Kehutanan

CIRI MASALAH/RESIKO
SEBAB MASALAH/RESIKO
USULAN MENGURANGI MASALAH/RESIKO
PIHAK-PIHAK YANG TERLIBAT
Tapal Batas

Areal pertanian menyempit
Angka kemiskinan semakin meningkat

Harus ada sosialisasi dari dinas-dinas terkait kepada masyarakat di daerah kawasan
Harus ikuti tapal batas 32
Dinas kehutanan
Lingkungan hidup

Kebutuhan Air Minum

Pembukaan lahan disekitar mata air
Mengakibatkan debet air semakin berkurang
Kebutuhan masyarakat akan air minum bersih tidak terpenuhi sacara maksimal
Harus ada
Penghijauan
Di daerah      mata air
Lingkungan   hidup

KELOMPOK  4 : Bidang Pengorganisasian

CIRI MASALAH/RESIKO
SEBAB MASALAH/RESIKO
USULAN MENGURANGI MASALAH/RESIKO
PIHAK-PIHAK YANG TERLIBAT
Laporan Administrasi dan Keuangan
Kurangnya koordinasi antara pendamping/pengurus dengan anggota kelompok
Laporan dministrasi dan keuangan belum tepat sasaran
Kurang jujur
Pembuatan jadwal kerja (kalender kerja)

Adanya pelatihan-pelatihan khusus

Pendamping
Pengurus kelompok
Pengorganisasian kelompok masyarakat

Kurang adanya penyuluhan teknis dari pendamping

Pendamping harus melakukan kunjungan kelompok secara berkala
Roling tugas (pengurus)
Pendamping/pengurus kelompok

Kurang adanya keterbukaan antara pengurus kelompok dengan anggota kelompok
Kurang memahami fungsi dan tugas

Kelompok macet
Kurang aktif dalam kegiatan kelompok
Menciptakan kegiatan yang bervariasi
Penadamping/pengurus kelompok

2.Evaluasi Kegiatan
Sebelum kegiatan selesai panitia membagikan kertas metaplen dan spidol kepada peserta untuk  menuliskan kriteria selama kegiatan berlangsung diantaranya :
Lokasi         : Baik
Panitia
Panitia harus menyebar ke setiap kelompok. Panitia oke. Mengurus anggota dengan baik. Pelayanan baik dan sangat memuaskan
Peserta
Aktif dalam mengikuti materi. Sebagian peserta belum sadar akan forum ini
Peserta hadir tidak sesuai yang dijadwalkan
Materi
Sudah baik. Materi pas. Semua materi harus dibagikan ke semua peserta sebagai pembelajaran dan sebagai acuan untuk kegiatan setiap hari.
Narasumber
Dalam penyampaian materi sangat baik dan memuaskan.
Peserta langsung mengerti. Penuh     dengan pengharapan.
Menyampaikan materi sesuai dengan pemahaman masyarakat/petani.
Konsumsi. Cukup. Baik. Oke

SARAN :
Dari Peserta :
Kegiatan yang akan datang seharusnya melibatkan pihak dinas khususnya PPL.
Setelah kegiatan ini diharapkan ada tindak lanjut dari lembaga.
Perlu adanya koordinasi yang baik dari semua dinas yang terkait.
Perlu Perhatian dari  pemerintah dalam penentuan anggaran yang berpihak pada petani.
Dampingan dari WTM paling kurang sebulan sekali.
Forum tani harus di buat setiap tahun dan tahun depan dilaksanakan di Doreng desa Nenbura kecamatan Doreng.
Diharapkan kegiatan akan datang peserta harus hadir tepat waktu dan lebih aktif.

Dari  WTM:
Petani harus aktif dan sungguh-sungguh mengikutinya.
Petani jangan sekedar menanam tapi perlu adanya. Manajemen/analisa usaha taninya.
Berpikir untuk mencoba,jangan berpikir tentang  apa yang terjadi nanti.
Konsep yang dipakai harus sesuai dengan kondisi yang ada.
Perlu adanya kunjungan kelompok setiap bulan dan membuat dinamika kelompok sehingga kegiatan terkoordinir dan bisa mengatasi solusi.
Tanam fondasi kuat sehingga hasilnya juga menjanjikan.
Usaha tani itu universial dimana saja dan kapan saja.

PENUTUP:
Diawali dengan membangun kesepakatan untuk pertemuan petani Tahun 2013. Dalam diskusi forum menyepakati pertemuan petani tahun 2013 dilaksanakan di Desa Nenbura Kecamatan Doreng.
Sambutan Direktur WTM. Menegaskan bahwa petani harus gegap gempita, semangat dan harus mandiri, petani harus memberi bukannya menerima.

Sambutan Panitia forum, Nong Epi dalam sambutan penutupan acara, mengucapkan terimah kasih atas dukungan dan partisipasi semua pihak dan permohonan maaf kepada peserta forum atas kekurangan yang di alami selama kegiatan. Akhir sambutannya Nong Epi menghimbau agar utusan kelompok tani harus memanfaatkan  pengetahuan yang di dapat selama tiga hari  dan dapat disosialisasikan ke kelompok. Dani memohon maaf atas keterbatasan panitia

Sambutan Ketua BPD Desa Hebing sekaligus menutup Pertemuan Petani., Dalam sambutannya mengajak peserta forum untuk mengikuti kegiatan yang akan dibuat WTM baik di kelompok, lapangan maupun berbagai pelatihan lainnya termasuk kegiatan besar seperti forum ini.
Ketua BPD juga menyampaikan permohonan maaf atas keterbatasan masyarakat desa Hebing, sekaligus mengucapkan terimakasih yang mendalam buat keluarga besar WTM, Dompet Duafa dan WALHI yang sudah menyelenggarkan kegiatan ini,
Selanjutnya Ketua BPD menutup acara Pertemuan Petani dengan resmi dengan ketukan palu .

Terima Kasih………….
Hebing, 20 Juni 2012

Dipublikasi di Pangan | Meninggalkan komentar

16 Suku Tolak Tambang Mangan: Aspirasi Masyarakat Selama Ini Terabaikan

Kefamenanu, Kompas – Sebanyak 16 suku di Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, menggelar sumpah adat, mencegah penambangan mangan dan pembangunan pabrik pemurnian batu mangan di Oekopa, Kecamatan Biboki Tanpah. Lokasi yang juga kampung adat itu jadi pusat pertanian, sumber mata air, dan padang penggembalaan.

Ritual adat yang digelar Sabtu (8/9) dihadiri para tua adat, perwakilan raja Biboki, aktivis lingkungan hidup, masyarakat, dan tokoh agama. Sebelumnya dilakukan perayaan misa dipimpin Pastor Piter Bataona SVD. ”Pemerintah daerah dan perusahaan agar memperhatikan aspirasi masyarakat,” kata Bataona.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Nusa Tenggara Timur Hery Naif, di Kefamenanu, Minggu (9/9), mengatakan, aspirasi masyarakat menolak kegiatan tambang yang disampaikan ke pemerintah setempat selama dua bulan terakhir ini tidak ditanggapi. Warga pun menempuh jalur alternatif, yakni mengadakan ritual adat dan sumpah adat diikuti 550 orang dari 16 suku.

Tak mau terkontaminasi

Upacara dan sumpah adat itu disebut pao pah nifu tobam tafa, artinya perlindungan alam semesta dan manusia yang menghuninya. Siapa yang melanggar ritual dan sumpah adat akan menanggung risikonya.

”Mereka ingin sawah seluas 840 hektar, padang penggembalaan, hutan lindung, sumber air, dan permukiman warga tidak rusak dan terkontaminasi tambang,” ujarnya.

Ritual adat diselenggarakan di dusun Busan, (kampung tua) terdapat kuburan leluhur, rumah adat, dan sejumlah benda adat peninggalan tua. Di tempat ini, hewan kurban berupa tiga ekor babi dan tujuh ekor ayam jantan disembeli, darah hewan diperciki pada pohon, hutan, dan batu-batuan di lokasi yang bakal dijadikan kawasan tambang.

”Leluhur diundang hadir menjaga kawasan itu karena aspirasi masyarakat yang menolak tambang tidak diperhatikan pemerintah. Semua orang, termasuk pemda dan pengusaha, dilarang membawa alat berat memasuki kawasan Oekopa guna merusak hutan dan lahan pertanian warga di dalamnya,” kata Naif.

Sekitar 100 meter dari dusun itu dipatok titik-titik pengeboran mangan dan pembangunan pabrik oleh PT GEI. Jika aktivitas itu dilanjutkan, pusat pemakaman leluhur, kampung adat, dan lahan persawahan 840 hektar di kawasan itu bakal rusak.

Utusan Raja Biboki, Subero Neno Biboki, berpendapat, sejak dulu warga hidup aman. Mereka juga tidak pernah mengalami kelaparan karena alam sudah menyediakan hutan, lahan subur, padang penggembalaan, dan sumber air.

Jika pabrik pemurnian mangan dibangun, peluang pencemaran dan kerusakan hutan besar. Perusahaan cenderung mengejar untung ketimbang memperhatikan lingkungan, apalagi sudah menyerahkan dana jaminan pelestarian lingkungan kepada pemerintah setempat. Pemkab telah membangun irigasi bernilai miliaran rupiah. Sekitar 4.000 ton gabah kering diproduksi dari kawasan Oekopa. (KOR)

Sumber: Kompas 10 September 2012 hlm. 22.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Tolak Tambang Mangan, Warga Oekopa Lakukan Ritual Adat

WALHI News, Menyikapi masifnya pertambangan terutama yang sedang dialami di Oekopa, sebanyak 16 suku dan ratusan warga Desa Oekopa dan warga desa tetangga lainnya di Kecamatan Biboki Tanpah, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Nusa Tenggara Timur, melakukan ritual adat Pao Pah Nifu, Tobam tafa (Perlindungan Alam dan Manusia). Tujuannya, menolak aktivitas tambang mangan dan rencana pembangunan pabrik pengolah batu mangan di kampung tersebut oleh PT Gema Energy Indonesia.

Sebelum upacara adat itu, dilakukan perayaan ekaristi di Kapela Oekopa yang dipimpin oleh Pater Piter Bataona, SVD (Koordinator JPIC SVD Timor). Dalam kotbanya, pastor menyampaikan soal pengalaman umat Israel yang mana melihat tanah Israel sebagai tanah terjanji yang dipenuhi susu dan madu. Mereka harus pergi dari Mesir meninggalkan penindasan Mesir. Dalam konteks itu, Oekopa hendaknya dilihat sebagai daerah atau tanah terjanji umat oekopa yang penuh dengan susu dan madu. Kita telah hidup dan menyatu dengan alam sebagai bentuk integrasi diri dan Allah dalam seluruh hidup kita, demikian tukas Pastor Piter.

Perayaan Ekaristi dan Ritual itu berlangsung pada Minggu (2/9/2012), dengan menyembelih seekor babi merah dan ayam jantan hitam, serta kelengkapan ritual adat lainnya yang dibentangkan di sebuah kain adat suku usat nesi Sonafk”bat. Hadir dalam acara itu, Pasto Piter Bataona, SVD, Victor Manbait (Direktur LAKMAS), Herry Naif (WALHI NTT) dan Kepala Desa Adat Tamkesi Usboko. Pada acara adat itu, Kepala Desa Adat Tamkesi Usboko mengatakan, ritual adat itu merupakan sebuah pemurnian untuk memperkuat yang benar, bukan membenarkan yang kuat karena dipengaruhi oleh kekuasaanan uang.

Senada dengan itu, utusan Raja Biboki, Suberu Neno Biboki mengatakan, masyarakat sudah dikasih berkat oleh Tuhan untuk menjaga dan memanfaatkan hasil-hasil hutan dan hasil kebun serta sawah agar bisa dikelola dengan baik tanpa harus dirusak. “Kami selama ini hidup dari hasil hutan, kebun dan sawah sehingga kalau dibuat rusak, nanti nasib kami warga Oekopa dan beberapa desa di sekitarnya mau seperti apa jadinya,” ujar Suberu.

Sementara itu, Oliva Usatnesi, salah seorang warga Oekopa mengatakan, kalau seandainya pabrik dibangun, beberapa sumber mata air warga di sekitar areal tambang akan tercemar limbah mangan yang tentunya berdampak pada kesehatan mereka.”Kalau seandainya air tercemar limbah, kami harus ambil air di mana? Apalagi debit air di daerah kami terbatas, sehingga kami minta agar pemerintah daerah membantu kami dengan cara segera membatalkan izin operasi dan pembangunan pabrik mangan itu,” harap Oliva.

Sedangkan Gabriel Manek (Ketua Forum Peduli Alam dan Budaya Oekopa) mengatakan bahwa “Kami tolak kehadiran serta aktivitas PT Gema Energy Indonesia di desa kami karena lahan sawah terancam dialiri limbah olahan batu mangan. Lalu bagaimana dengan dampak lingkungan juga kesehatan kami di sini,” kata Gabriel Manek, yang diamini oleh beberapa warga Oekopa lainnya.

Karena acara adat itu dilakukan di Busan (Kampung lama) yang mana terdapat pekuran leluhur Usatnesi Sonafk’bat, sempat dilihat bahwa titik-titik pemboran mangan yang telah dipatok oleh PT Gema Energy Indonesia berjumlah sekitar 200 lebih dan masuk dalam areal kawasan hutan. Herannya, hingga hari ini Dinas Kehutanan TTU, Badan Lingkungan Hidup (BLH) TTU, Bapeda TTU serta Dinas Pertanian Kabupaten TTU menyikapi permasalah tersebut. Padahal kawasan itu adalah salah satu sentral produksi pangan (beras) di Kabupaten TTU yang sudah mendapat alokasi anggaran miliaran rupaih untu membuat Bendungan dan Pengairan. Kenapa pemkab TTU tidak serius mengurus persawahan mereka tetapi harus mengurus pertambangan yang dilihatnya sebagai industri keruk, demikian kata Victor Manbait (Direktur Lakmas).

Warga oekopa lakukan ritual adat di busan, kampung lama di sana masih terdapat pekuburan leluhur dan tempat ritual ada mereka

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Lokakarya Monitoring Dampak dan Analisa Pertambangan Mangan di Pulau Timor Barat

Lokakarya Monintoring dan Analisa Dampak Pertambangan Mangan di Pulau Timor yang diselenggarakan oleh Badan Lingkungan Hidup (BLH) Propinsi NTT dan Charles Darwin Univercity (CDU) di hotel Maya Kupang(28-29/08/12). Kegiatan ini dihadiri oleh BLHD, Dinas Pertambangan dan Energi, Bapeda, Dinkes se-kabupaten di Pulau Timor, Akademisi dan beberapa NGO di Kota Kupang.

Lokakarya ini dibuka oleh Eston Funay (Wakil Gubernur NTT) dihadiri oleh Karliansya (Deputi Perlindungan dan Pengendalian Pencemaran Lingkungan Hidup) Kementrian Lingkungan Hidup. Dalam Presentasinya, Karliansyah mengutarakan mengenai pertambangan yang harus dilakukan secara baik, mulai dari perencanaan hingga reklamasi. Karena itu, pengawasan pengelolaan lingkungan hidup harus dilakukan secara tegas dan baik.

Menanggapi prensentasi ini, Herry (Direktur WALHI NTT) menyatakan bahwa sejauh pengalaman pemantauan WALHI di seluruh Indonesia, belum ditemukan sebuah pertambangan yang baik. Malah yang terjadi adalah masyarakat di lokasi pertambangan dipinggirkan. Hak-hak dasar rakyat di wilayah pertambangan malah dilanggar.

Lebih dari itu, NTT adalah deretan pulau-pulau kecil yang harus dilihat lebih cerdas. Model Pengelolaan Sumber Daya Alam yang dilakukan di NTT itu ramah lingkungan. Sedangkan Pertambangan adalah industri ekstraktif yang tidak ramah lingkungan. Seyogyanya di tolak dari bumi Flobamoratas, demikian tukasnya.

Sedangkan presentasi beberapa peneliti, seperti Rohan Fisher dari Charles Darwin Univercity menyatakan bahwa pulau Timor adalah wilayah yang labil. Karena itu pengelolaan Sumber daya alam harus dilakukan secara baik.  Kemudian dilanjutkan dengan prensentasi dari Kepala BLH Propinsi NTT bahwa dari hasil monitoring BLH banyak wilayah pertambangan di NTT harus dievaluasi karena berada di wilayah kelola rakyat, yang tentunya akan mengganggu sumber penghidupan rakyat.

Lokakarya ini kemudian berakhir dengan sebuah rekomendasi yang ditandatangani bersama mengenai pemantauan dan evaluasi atas seluruh pertambangan mangan yang ada di NTT.

 

Dipublikasi di Berita | Meninggalkan komentar

Persawahan Rakyat Oekopa Tergusur Akibat Pertambangan Mangan

Mengurai Pertambangan Mangan Oekopa dan Oerinbesi
(Kajian-Analisis Ekonomi, Sosial, Budaya dan Politik) 1
Oleh: Herry Naif 2

I.Profil Oekopa
Secara historis, desa Oekopa termasuk wilayah kevetoran Tamkesi (Biboki). Suku yang dominan ada di wilayah itu adalah Usatnesi Sonaf’Kbat, Soanbubu, Suilkono selain itu ada suku Monemnasi, Tasi, Amteme Taekab, Amsikan, Naitsea, Leoklaran, Taslulu, Usboko.
Secara Administrasi-geografis, desa Oekopa terletak di Kecamatan Biboki Tanpah, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), dimana sebelah Utara Berbatasan dengan dengan desa Tualene, Selatan dengan desa Oerinbesi, Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Belu, Sebelah Barat berbatasan dengan desa Tautpah. Jumlah penduduk desa Oekopa, 1.271 jiwa (2010), 1.563 (2011). Mayoritas penduduknya berprofesi petani sawah. Karena itu, Oekopa dikenal sebagai salah satu pemasok beras bagi masyarakat Kabupaten TTU dan Kabupaten Belu. Kondisi jarak tempuh menuju Atambua lebih dekat bila dibandingkan dengan kota Kefa, tidak heran bila kemudian para petani lebih memilih menjual panen beras ke Atambua. Namun tidak berarti bahwa dengan kondisi ini kemudian tanggung jawab pemerintah kabupaten TTU tidak memberikan perhatian serius agar bagaimana mengefektifkan pola pertanian di desa tersebut.
Seyogyanya, Oekopa dan Oerinbesi diidentifikasi sebagai daerah potensial pertanian (persawahan) dalam kerangka mendukung program pertanian yang telah dicanangkan sebagai salah satu program strategis Pemerintahan Kabupaten TTU, yakni: Program Padat Karya Pangan (PKP) yang sedang gencar dikampanyekan.
Potensi persawahan  Oekopa dan Oerinbesi didukung kawasan penyanggah yang mana terdapat enam sumber mata air, yakni: Oetobe, Oenenas, Oecikam, oeekam, Oeoni dan Oesanlat. Keenam sumber mata air tersebut digunakan untuk mengairi persawahan Oekopa seluas 840 ha.
Selain  itu, kawasan itu menjadi kawasan penyangga bagi desa Oekopa dan lima (5) Desa lainnya, seperti: (Tualene, Oerinbesi, Tautpah,  Taunbaen dan Biloe). Bahkan juga menjadi salah satu kawasan penyangga untuk hamparan persawahan Lurasik, Inggareo, Matamaro. Kawasan ini pun menjadi kawasan penggembalaan ternak (sapi 752 ekor) bagi warga Oekopa.
Malah secara historis-cultural, wilayah ini dipandang warga sebagai kawasan yang harus dilindungi karena di kawasan itu ada tempat ritus adat (fatukanaf3 dan Oekanaf) dari beberapa suku yang ada di Oekopa.
Itu berarti, pengelolaan lingkungan berasas pada sebuah kearifan lokal yang bernuansa nilai perlindungan ekologis perlu dilestarikan dan diakomodir dalam konsep pengeloaan sumber daya alam.. Hubungan timbal-balik manusia dengan alam dipandang dalam sebuah keadilan demi pewarisan lingkungan bagi generasi selanjutnya.

II.Hasil Temuan4
Sejak tahun 2010, diwacanakan akan adanya pertambangan mangan di desa Oekopa oleh PT. Gema Energi Indonesia (GEI). Sosialisasi dilakukan sekali sebagai bentuk perkenalan perusahan dengan warga. Setelah itu, perusahaan atau pun pemerintah Kabaupaten TTU tidak pernah mendatangi Oekopa untuk melakukakn sosialisasi tentang adanya pertambangan tersebut.
Kendatipun demikian, tahun 2012 perusahaan kembali ke Oekopa dengan mengantongi surat Bupati TTU No. Ek.540/102/IV/2012 tentang Ijin Prinsip Pembangunan Pabrik Pengolahan dan Pemurnian Bijih Mangan kepada PT. Gema Energy Indonesia.
Dari hasil pantauan lapangan yang dilakukan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) NTT dan Lembaga Advokasi Masyarakat Sipil (Lakmas) Cendana Wangi (09/08/12) di Oekopa ditemukan beberapa fakta, diantaranya:
Pembangunan stock phile mangan di Oekopa, yang berjarak 10 M dari Pemukiman dan 30 M dari persawahan rakyat;
Kawasan ini oleh masyarakat adat dilihat sebagai kawasan yang perlu dijaga karena ada tempat-tempat ritual adat. Dan kemudian oleh Negara dilarang agar rakyat menebang pohon dan merusak lingkungan. Tetapi, sekarang dikampling untuk pertambangan manga (Wilayah Pertambangan dan Pembangunan Stok file)
Wilayah pertambangan (WP) seluas 200 hektare, pada kawasan penyangga dan penggembalaan tenak warga dan kawasan itu merupakan kawasan penyangga sosial-budaya karena terdapat tempat-tempat ritus adat masyarakat setempat dan pekuburan warga;
Sosialisasi dilakukan sekali pada tahun 2010 oleh PT. Gema Energi Indonesia (GEI) yang dihadiri 22 orang dari Oekopa; Pada dokument ini membuktikan pemalsuan dokumen karena kepala desa mengambil hak sebagai tokoh adat, sedangkan sekretaris desa menduduki posisi sebagai kepala desa;
Ganti-rugi lahan dimana per/hektare 22,5 juta; Sebagai ikatan dengan setiap warga pemilik lahan per/hektare 2 juta namun pada realisasinya 1 juta/pemilik lahan;
Pohon-pohon jati yang berada di lokasi pertambangan diganti dengan harga yang bervariasi Rp. 50.000 – Rp. 500.000
Wacana pertambangan mangan di Oekopa menyebabkan ketidaknyamanan bagi warga dan malah menimbulkan pro-kontra antar warga;
Janji perusahaan akan dibangun tangki-tangki limbah dan akan melakukan penanaman kembali pada lokasi yang telah digali;
Adanya penolakan warga dari suku Usatnesi sonaf’kbat  yang sudah disampaikan kepada Bupati TTU dan DPRD TTU, Sebagai respon DPRD TTU, Ketua komisi C DPRD TTU bersama dua anggota DPRD TTU bertemu langsung dengan pihak penolak di kantor desa Oekopa dengan tujuan menghimpun usulan penolak, (3 Agustus 2012)
Perusahaan (PT. Gema Energi Indonesia – GEI) telah menurunkan 6 peralatan bor di Oekopa dan sementara melakukan aktivitas pemboran; untuk melakukan pencarian mangan,  (Hendrikus Abatan, Kepala Desa Oekopa), Fredy Tan (Penanggungjawab perusahaan di Kefa) dan pernyataan beberapa warga yang ditemui di Oekopa;
Janji perusahaan adalah membangun kapela (tempat ibadat) Oekopa;

III. Kajian – Analisis atas Fakta Pertambangan Oekopa
Sejak tahun 2007, pertambangan mangan masif dilakukan hampir di seluruh wilayah di Pulau Timor seolah menjadi  leading sector dari berbagai bidang lainnya. Pertambangan mangan di Pulau Timor dilihat sebagai pertambangan berjemaat. Tanpa sebuah kajian-kritis atas pertambangan yang dilakukan para pihak, tidak heran bila kemudian banyak wilayah pertambangan yang mendapat reaksi penolakan dari warga setempat.
Beberapa temuan lapangan di Oekopa yang disampaikan sebelumnya, tentunya tidak jauh berbeda dengan fakta pertambangan lain di Indonesia dan NTT.
Dengan demikian, kami Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI)5 Daerah NTT dan Lembaga Advokasi Masyarakat Sipil (LAKMAS)6 mencoba membuat analisa dan kajian atas beberapa fakta tersebut sebagai pertimbangan kritis untuk kembali melihat dan meninjau kebijakan pertambangan Oekopa dan Oerinbesi yang sedang ramai dibicarakan.

3.1. Apa itu Pertambangan
Pertambangan adalah kegiatan untuk mendapatkan logam dan mineral dengan cara bongkar: gunung, hutan, sungai, laut dan penduduk kampung.
Pertambangan adalah kegiatan paling merusak (alam dan kehidupan sosial) yang dimiliki orang kaya dan hanya menguntungan orang kaya.
Pertambangan adalah lubang besar yang menganga dan digali oleh para pembohong (Mark Twian)
Pertambangan adalah industri yang banyak mitos dan kebohongan:
Dari beberapa defenisi ini tidak jarang menimbulkan perdebatan mengenai kegiatan pertambangan itu sendiri karena akan menimbulkan peluang kerusakan lingkungan hidup.  Kerusakan lingkungan hidup yang terjadi dikarenakan adanya eksplorasi sumberdaya alam untuk memenuhi kebutuhan manusia tanpa memperhatikan kelestarian lingkungan. Kerusakan lingkungan telah mengganggu proses alam, sehingga banyak fungsi ekologi alam akan terganggu.

3.2. Dampak Ekologi
Topografi wilayah Oekopa sangat mendukung pengembangan persawahan. Sejak tahun 1970-an warga Oekopa mulai mengenal sebuah pola pengelolaan persawahan yang baik.  Kehidupan mereka ditopang oleh persawahan dan pengembangan peternakan.
Apabila kebijakan diarahkan pada pertambangan mangan dengan dibangun stok file dan wilayah pertambangan seluas 200 hektare pada wilayah yang sama maka akan berakibat pada:
a)Perubahan Bentangan Alam (land-scape)
Pertambangan Oekopa dan Oerinbesi tentunya membawa perubahan land-scape yang berakibat pada penyempitan lahan pertanian, dan penghilangan padang penggembalaan. Lebih dari itu akan berakibat pada terganggunya ekosistem di wilayah tersebut seiring dengan  berubahnya land-scape wilayah itu.
Apalagi pembongkaran permukaan tanah itu dilakukan di kawasan penyangga tentunya akan berakibat fatal pada pengembangan persawahan dan peternakan yang selama ini menjadi penopang hidup warga.

b)Mengganggu Tata Hidrologi air
Kenyataannya pada wilayah itu terdapat 6 sumber mata air, seperti:  Oetobe, Oenenas, Oecikam, oeekam, Oeoni dan Oesanlat. Itu berarti wilayah tersebut adalah water scathman area (daerah tangkapan air) yang dimanfaatkan mengairi persawahan yang selama ini menjadi sumber penghidupan warga. Dikhatirkan bahwa konversi wilayah penyangga ini pun dapat berakibat pada kekeringan sumber mata air karena terjadi perubahan tata hidrologi air.
Karena itu, pembangunan pabrik pengolahan biji mangan di Oekopa harus mendapat kajian serius,  terutama mempertimbangkan ketersedian air.
Apakah ketersedian air di wilayah Oekopa dan Oerinbesi akan mampu mengairi persawahan bila air itu harus didistribusikan lagi untuk kepentingan proses pemurnian mangan. Sebab, kebutuhan pabrik akan air untuk proses pemurnian mineral mangan (Mn) tidak seperti yang dibayangkan mencuci perabot rumah tangga.

c)Harus ada Kajian Analisa Resiko
Pertambangan mangan yang dilakukan di Oekopa dan Oerinbesi pun harus berbasis analisa resiko. Pembongkaran permukaan tanah yang luas dapat menimbulkan tanah longsor. Selain itu, ledakan tambang, keruntuhan tambang serta keselamatan warga pekerja apa sudah dipertimbangkan.
Tanpa pembongkaran tanah saja, Kabupaten TTU sering mengalami bencana longor  saat hujan dan kekeringan pada musim panas.

d)Harus Diasaskan pada Kebijakan Tata Ruang
Kebijakan penataan ruang secara formal ditetapkan bersamaan dengan diundangkannya Undang-undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang, yang kemudian diperbaharui dengan Undang- undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Kebijakan tersebut ditujukan untuk mewujudkan kualitas tata ruang yang semakin baik, yang oleh undang-undang dinyatakan dengan kriteria aman, nyaman, produktif dan berkelanjutan.
Dalam konteks itu, apakah pertambangan Oekopa dan Oerinbesi sudah melalui penetapan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) agar tidak mengganggu ruang persawahan dan peternakan warga.
Apabila pertambangan mangan di Oekopa dan Oerinbesi diberlakukannya sesuai dengan kebijakan penataan ruang, maka tidak ada lagi tata ruang wilayah yang tidak direncanakan. Tata ruang menjadi produk dari rangkaian proses perencanaan tata ruang, pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang sehingga tidak menimbulkan over-lap pengelolaan.
Kebijakan tata ruang berguna membantu mengupayakan perbaikan kualitas rencana tata ruang wilayah maka Kajian Lingkungan Hidup Strategis (KLHS) atau Strategic Environmental Assessment (SEA) di Kabupaten TTU menjadi salah satu pilihan alat bantu melalui perbaikan kerangka pikir (framework of thinking) perencanaan tata ruang wilayah untuk mengatasi persoalan lingkungan hidup di Kabupaten TTU.
Karena itu, Pemerintah Kabupaten TTU perlu melakukan penataan RTRW (Rencana Tata Ruang Wilayah) sesuai dengan perintah Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007. Hanya dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) secara komprehensif Pemkab TTU mampu memetakan seluruh potensinya, baik di bidang pertanian, peternakan, pariwisata, kehutanan, dll yang dilandasi pada analisa ekologi dan analisa resiko ancaman.

3.3. Dampak Limba Industri
Setiap usaha pertambangan memiliki karakterr yang berbeda antara mineral yang satu dengan mineral yang lainnya dimana sangat beresiko terhadap ekosistem dan lingkungan hidup di wilayah itu.
Begitu pun usaha pertambangan mangan di Oekopa dan Oerinbesi pun harus dilihat dari dampak industri yang mana dapat menimbulkan potensi gangguan antara lain;
Pencemaran akibat debu dan asap yang mengotori udara dan air limbah dari buangan tambang yang mengandung zat-zat beracun. Hal ini dapat menyebabkan pencemaran air. Dengan demikian, pertambangan mangan Oekopa dan Oerinbesi akan berdampak buruk pada persawahan dan peternakan akibat pencemaran air dan udara yang ditimbulkan dari proses pencucian mangan tersebut.
Gangguan berupa suara bising dari berbagai alat berat, berupa suara ledakan eksplosive (bahan peledak) dan gangguan terhadap kesehatan masyarakat sehingga dapat muncul jenis penyakit baru yang bersifat endemik dan epidemik;
Karena itu, kajian Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) kiranya menjadi fundamen dalam mengevaluasi kebijakan tersebut. Bukannya AMDAL dilihat sebagai legal formal yang akan meligitimasi sebuah prosudure formal dalam memenuhi ketentuan formal. Tetapi harus dilakukan sebagai kiat baik dalam upaya menjaga keseimbangan ekologi di setiap wilayah.
Pertambangan Oekopa dan Oerinbesi belum mendapat kajian AMDAL secara serius. Malah, Badan Lingkungan Hidup (BLH) Daerah Kabupaten TTU belum mengetahui tentang adanya perijinan tersebut. Dan itu dapat dibenarkan karena dari Ijin Prinsip Pembangunan Pabrik Pengolahan Mangan itu diketahui oleh BLH Daerah Kabupaten TTU. Padahal, Badan Lingkungan Hidup Daerah adalah sebuah instansi yang ada dikabupaten TTU yang memiliki kewenangan untuk merekomendasikan layak tidaknya sebuah proses pengelolaan lingkungan hidup apalagi pertambangan.
Dengan beberapa fakta ini dapat disimpulkan sementara bahwa pertambangan mangan Oekopa dan Oerinbesi belum dilakukan secara transparan agar dilakukan upaya minimalisasi dampak lingkungan yang terjadi.

3.4. Dampak Kesehatan7
Pertambangan adalah sebuah usaha yang tidak ramah lingkungan dan berakibat fatal bagi kesehatan manusia. Karena itu, pertambangan mangan di Oekopa dan Oerinbesi perlu dilihat dampak kesehatan yang tentunya akan dialami warga. Sebab dampak Mangan terutama terjadi di saluran pernapasan dan otak. Gejala keracunan mangan adalah halusinasi, pelupa dan kerusakan saraf. Manganese can also cause Parkinson, lung embolism and bronchitis. Mangan juga dapat menyebabkan Parkinson, emboli paru-paru dan bronkitis. When men are exposed to manganese for a longer period of time they may become impotent. Ketika orang-orang yang terkena mangan untuk jangka waktu yang lebih lama mereka menjadi impoten.
Suatu sindrom yang disebabkan oleh mangan memiliki gejala seperti schizophrenia, kebodohan, lemah otot, sakit kepala dan insomnia.
Mangan senyawa alami ada di lingkungan sebagai padatan di tanah dan partikel kecil di dalam air. Manganese particles in air are present in dust particles. Mangan partikel di udara yang hadir dalam partikel debu. These usually settle to earth within a few days. Ini biasanya menetap ke bumi dalam waktu beberapa hari. Humans enhance manganese concentrations in the air by industrial activities and through burning fossil fuels.Manusia meningkatkan konsentrasi mangan di udara oleh aktivitas industri dan melalui pembakaran bahan bakar fosil. Manganese that derives from human sources can also enter surface water, groundwater and sewage water.
Mangan yang berasal dari sumber manusia juga dapat memasukkan air permukaan, air tanah dan air limbah. Through the application of manganese pesticides, manganese will enter soils. Melalui penerapan pestisida mangan, sehingga mangan akan memasuki tanah.
Pertambangan Mangan dapat mengancam kesehatan dengan berbagai cara:
Debu, tumpahan bahan kimia/limbah, asap-asap yang beracun, logam-logam berat dan radiasi dapat meracuni penambang dan menyebabkan gangguan kesehatan sepanjang hidup mereka;
Mengangkat peralatan berat dan bekerja dengan posisi tubuh yang janggal dapat menyebabkan luka-luka pada tangan, kaki, dan punggung;
Penggunaan bor batu dan mesin-mesin vibrasi  dapat menyebabkan kerusakan pada urat syaraf serta peredaran darah, dan dapat menimbulkan kehilangan rasa, kemudian jika ada infeksi yang sangat berbahaya seperti gangrene, bisa mengakibatkan kematian;
Bunyi yang keras dan konstan  dari peralatan dapat menyebabkan masalah pendengaran, termasuk kehilangan pendengaran;
Jam kerja yang lama  di bawah tanah dengan cahaya yang redup dapat merusak penglihatan;
Bekerja di kondisi yang panas terik tanpa minum air yang cukup dapat menyebabkan stres kepanasan.Gejala-gejala dari stres kepanasan berupa pusing-pusing, lemah, dan detak jantung yang cepat, kehausan yang sangat, dan jatuh pingsan;
Pencemaran air dan penggunaan sumberdaya air berlebihan  dapat menyebabkan banyak masalah-masalah kesehatan
Lahan dan tanah menjadi rusak,  menyebabkan kesulitan pangan dan kelaparan.
Pencemaran udara  dari pembangkit listrik yang dibangun dekat dengan daerah pertambangan dan mobilisasi transportasi dapat menyebabkan penyakit-penyakit yang serius
Dari beberapa fakta yang diperkirakan dapat terjadi ini, apakah pernah dipertimbangkan secara serius oleh Pemerintah Kabupaten TTU? Ataukah dengan alasan ekonomi kemudian semua dampak ini dibiarkan atau seolah tidak diketahui.
Karena itu sejak awal, pemerintah kabupaten terutama dinas kesehatan mestinya melakukan studi dan analisis kesehatan agar dapat dilihat dan diminimalisir dampak kesehatan agar semua fakta itu tidak menimpah warga Oekopa dan Oerinbesi bahkan masyarakat yang sedang gencar melakukan pertambangan mangan di wilayahnya.

3.5. Dampak Sosial-Budaya
Setiap wilayah memiliki sebuah norma dan budaya yang dianut dalam berbagai aspek kehidupan. Dalam konteks pengelolaan Sumber Daya Alam pun pasti setiap wilayah memiliki konsep dasar pengelolaan atau yang dikenal dengan istilah kearifan lokal (local wisdom).
Secara historis, kabupaten TTU dikenal dengan istilah salu miomaffo, kulun maubes yang berarti bahwa Miomaffo, Insana dan Biboki memiliki kedekatan historis. Ketiga kevetoran ini secara historis memiliki beberapa kesepakatan sejarah dan kesamaan nilai dan budaya yang dianut bersama.
Dalam kaitan dengan Pengelolaan Sumber Daya Alam, mereka mengelolanya sesuia dengan zonasi yang disepakati. Untuk kawasan-kawasan tertentu yang ingin dilindungi maka dianggap keramat atau sakral yang tidak bisa diganggu. Misalnya Naesleu (hutan adat), Naes tala (hutan larangan) dan kemudian dikenal istilah oekanaf dan faot kanaf dan demi pengawasan kemudian dibagi seturut suku-suku yang ada.
Tidak heran di setiap kampung di Timor pasti setiap suku memiliki faot kanaf dan oekanaf  yang mana menjadi tempat pemujaan leluhur dan terintegrasinya suku tersebut.
Begitu pun dengan desa Oekopa, Suku Usatnesi Sonaf’kbat menganggap kawasan itu sebagai kawasan yang perlu dilindungi dan tidak boleh diganggu oleh siapa pun.
Sistem kepemilikan lahan adalah sistem kolektif artinya dimiliki bersama oleh suku tersebut. Tidak benar bila kemudian dikampling oleh turunannya sebagai milik pribadi, karena setiap turunan hanya diberi hak untuk mengelola.
Hanya saja sistem ini kemudian tergerus oleh perkembangan zaman yang bernuansa individualistik dan kapitalistik. Sehingga segala keputusan kemudian tunduk dengan modal dan kepentingan pribadi.
Berpijak pada beberapa pemikiran ini, dari hasil pantauan kami menemukan, bahwa:
Kehadiran Pertambangan di desa Oekopa dan Oerinbesi menciptakan hubungan kekeluargaan menjadi renggang atau kurang harmonis; Atau merusak hubungan kekeluargaan dan persaudaraan dalam masyarakat;
Belum ada suatu rumusan kesepakatan yang baik dengan masyarakat (community attribute): peran lembaga adat atau dewan pemangku adat, peran serta masyarakat lokal tentang upaya pengelolaan dan perlindungan LH dalam usaha pertambangan;
Padahal masyarakat di Oekopa sejak dulu punya kearifan lokal untuk melindungi dan menyelamatkan lingkungan hidup dengan melakukan zonasi pengelolaan.Malah, menurut apao ume adat (penjaga rumah adat) suku usatnesi sonaf’kbat mengatakan bahwa masyarkat dilarang menebang pohon dan merusak wilayah itu tetapi pertambangan dibolehkan.
Belum ada kesepahaman antara Pemerintah Kabupaten TTU, pengusaha dengan masyarakat lokal Lembaga Adat/Pemangku Adat- Tobe);
Padahal perintah Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara jelas, bahwa Penetapan WP sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2) dilaksanakan:
a)secara transparan, partisipatif, dan bertanggung jawab;
b)secara terpadu dengan memperhatikan pendapat dari instansi pemerintah terkait, masyarakat, dan dengan mempertimbangkan aspek ekologi, ekonomi, dan sosial budaya, serta berwawasan lingkungan; dan
c)dengan memperhatikan aspirasi daerah.
Pertambangan Mangan di Oekopa dan Oerinbesi membawa dampak konflik agraria, karena sejak dulu sistem kepemilikan lahan itu adalah kolektif, tetapi kemudian dengan pertambangan tanah dikapling sebagian warga.

3.6. Dampak Kebijakan dan Politik
Pertambangan yang dilakukan di Oekopa dan Oerinbesi adalah sebuah kebijakan yang tentunya memiliki keterkaitan dengan keputusan politik. Untuk itu, kebijakan ini perlu dicermati dalam kacamata politik yang lebih detail agar kemudian tidak berimplikasi buruk bagi warga.
Pertambangan selalu menjadi arena perjudian dalam kanca perpolitikan. Sering sumber daya alam menjadi bargaining potition dalam membuat kesepakatan-kesepakatan. Alasan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) hanyalah sebuah rasionalisasi pembenaran atas kerusakan lingkungan. Mengapa? Karena selama sistem politik yang dijalankan itu mementingkan kekuasaan dan modal maka rakyat hanyalah sebagai tumbal.
Dalam kaitan dengan itu, kebijakan pertambangan yang digelontarkan pemerintah Kabupaten TTU dalam Surat Bupati TTU No. Ek.540/102/IV/2012 tentang Ijin Prinsip Pembangunan Pabrik Pengolahan dan Pemurnian Bijih Mangan kepada PT. Gema Energy Indonesia di desa Oekopa dan Oerinbesi perlu dicermati dan dianalisa secara cermat.
Beberapa hal yang perlu dilihat sebagai evaluasi atas kinerja pemerintahan kabupaten TTU, diantaranya:
Berasas pada Surat Bupati TTU No. Ek.540/102/IV/2012 tentang Ijin Prinsip Pembangunan Pabrik Pengolahan dan Pemurnian Bijih Mangan kepada PT. Gema Energy Indonesia di desa Oekopa dan Oerinbesi.
Eksplorasi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan untuk memperoleh informasi secara terperinci dan teliti tentang lokasi, bentuk, dimensi, sebaran, kualitas dan sumber daya terukur dari bahan galian, serta informasi mengenai lingkungan sosial dan lingkungan hidup. sedangkan Tahap Produksi/Eksploitasi adalah tahapan kegiatan usaha pertambangan yang meliputi konstruksi, penambangan, pengolahan, pemurnian, termasuk pengangkutan dan penjualan, serta sarana pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan hasil studi kelayakan (Undang-Undang No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara, Psl. 1 (15 & 17).
Dari dua terminologi atau tahapan ini kami menilai bahwa Ijin Usaha Pertambangan dalam Surat Bupati TTU No. Ek.540/102/IV/2012 tentang Ijin Prinsip Pembangunan Pabrik Pengolahan dan Pemurnian Bijih Mangan kepada PT. Gema Energy Indonesia di desa Oekopa dan Oerinbesi, tidak sesuai dengan tahapan pertambangan karena kenyataan di lapangan masih melakukan pencarian dengan pemboran untuk mengetahui lokasi dan sebaran mangan di Oekopa.
Padahal bila perijinan itu sejalan dengan kenyataan di lapangan maka sudah  ada konstruksi, penambangan, pengolahan, pemurnian, termasuk pengangkutan dan penjualan, serta sarana pengendalian dampak lingkungan sesuai dengan hasil studi kelayakan.
Kebijakan ini dinilai tidak populis dan tidak sinkron dengan skala prioritas program strategis yang sementara dilakoni dimana pertanian menjadi salah satu program strategis. Apabila pemerintah kabupaten TTU serius menjalankan RPJMD dan Visi-Misi sertaProgram Padat Karya Pangan (PKP), maka Oekopa, Oerinbesi dan beberapa wilayah sentral persawahan harus dijadikan sebagai pemasuk pangan terutama beras agar tidak terus mengharapkan pasokan pangan dari luar misalnya RASKIN (Beras Miskin)
Karena itu semestinya Pemkab TTU perlu diidentifikasi wilayah-wilayah potensial pertanian karena tanpa didorong pemerintah pun telah berkontribusi sebagai pemasok pangan.
Sejak tahun 2010, pemerintah mengeluarkan kebijakan moratirium pertambangan tetapi kemudian hasil moratorium itu tidak dipublikasikan agar publik mengetahui apa hasil evaluasi dan apa solusi dari permasalahan tersebut.
Pertambangan mangan di Oekopa dan Oerinbesi tidak berasaskan pada Kebijakan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Padahal kawasan pertambangan tersebut itu dilarang untuk ditebang pohon dan dirusakan;

3.7. Dampak Ekonomi
Hampir semua aktivitas pertambangan dilandaskan pada analisis ekonomi. Argumentasi peningkatan ekonomi warga dan Pendapatan Asli Daerah dipandang sebagai alasan mumpuni dari pertambangan.
Dengan pertambangan akan diserap tenaga kerja dan perubahan kualitas hidup masyarakat sekitar wilayah pertambangan. Argumentasi yang sama pun ditemukan di Oekopa dan Oerinbesi bahwa dengan pertambangan mangan akan menyerap tenaga kerja dan memberikan dampak positif bagi kehidupan rakyat.
Padahal, secara ekonomi yang perlu dikaji lebih jauh adalah kegiatan Produksi, Distribusi dan Konsumsi.
Untuk pertambangan Oekopa dan Oerinbesi perlu dicermati daya rusak tambang pada ekonomi warga setempat, apakah terjadi penghancuran pada tata produksi, distribusi dan konsumsi lokal.
Rusaknya Tata Produksi
Masyarakat Oekopa dan Oerinbesi sejak keberadaannya, persawahan menjadi sumber penghidupan utama disamping peternakan. Apabila pemerintah berinisiasi untuk meningkatkan pendapatan mereka mestinya yang dilakukan adalah kembali menata dan memulihkan lokasi-lokasi penyanggah agar debit air semakin memadai agar seluruh hamparan itu dimanfaatkan secara efektif untuk persawahan. Malah yang harus dipikirkan adalah pascah panen apa yang harus dilakukan petani dan bagaimana mengentaskan sistem ijon yang ramai dilakoni petani.
Bila kawasan itu dikonversi menjadi pertambangan, akan terjadi rusaknya tata produksi. Karena operasi pertambangan membutuhkan lahan yang luas, dipenuhi dengan cara menggusur tanah milik dan wilayah kelola rakyat. Kehilangan sumber produksi (tanah dan kekayaan alam) melumpuhkan kemampuan masyarakat Oekopa dan Oerinbesi yang selama ini menghasilkan beras (pangan) untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.
Bagi warga Oekopa dan Oerinbesi tanah dan persawahan adalah sumber penghidupan yang tidak bisa ditukarkan/digadaikan.

Rusaknya tata konsumsi,
Lumpuhnya tata produksi (persawahan dan peternakan) menjadikan masyarakat Oekopa dan Oerinbesi makin tergantung pada barang dan jasa dari luar. Untuk kebutuhan sehari-hari mereka semakin lebih jauh dalam jeratan ekonomi.
Uang tunai yang cendrung dilihat besar, tanah dan kekayaan alam sebagai faktor produksi dan bisa ditukar dengan sejumlah uang untuk sementara waktu (instant) tetapi apa pernah dipikirkan tentang rusaknya lahan dan tata konsumsi warga.

Rusaknya tata distribusi,
Kegiatan distribusi setempat semakin didominasi oleh arus masuknya barang dan jasa ke dalam komunitas termasuk beras (pangan) yang merupakan kebutuhan paling pokok.
Padahal, biasanya pada awal sebuah proses pertambangan akan dibangun opini publik bahwa pertambangan akan membawa kesejateraan dengan meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat setempat.
Tetapi yang terjadi warga Oekopa dan Oerinbesi menjadi kuli di negeri sendiri, bila ia menjadi seorang petani, ia akan berdaulat dengan dirinya.
Tawaran akan pertambangan perlu dikaji secara cermat dengan melihat fakta-takta yang sudah ada. Bukan dengan pragramtis lalu pertambangan disetujui, setelah itu baru diakhiri dengan kekesalan.

IV.Kesimpulan dan Rekomendasi:
Dari beberapa uraian di atas, dapat disimpulkan dan direkomendasikan beberapa hal diantaranya:
Pertambangan Mangan di Oekopa dan Oerinbesi tidak layak dilakukan, segera dihentikan karena sedikit memiliki manfaat positif bagi warga dibanding dampak negatif;
Pulihkan kawasan penyangga agar Oekopa dan Oerinbesi menjadi daerah pemasok beras bagi Kabupaten TTU, begitupun dengan kawasan persawahan lain agar TTU memiliki daerah pemasok beras;
Perijinan pertambangan itu dinilai cacat hukum, karena tidak sesuai dengan prosedur tahapan pertambangan antara status perijinan dan kenyataan di lapangan;
Pemkab TTU semestinya secara transparan dan akuntable membuat kajian dan analisis agar pembangunan tidak bias program.
KRONOLOGI
1.Perjalanan pertambangan mangan di desa Oekopa, kami dari sonaf’kbat dan forum masyarakat peduli kelestarian alam budaya sudah melakukan penolakan pada:
2.Pada tanggal 21 Mei 2012 mengeluarkan surat pembatalan yang pertama yang ditunjukkan kepada pemerintah desa Oekopa
3.Pada tanggal 6 Juni 2012 mendapatkan tanggapan dari pemerintah desa dan mengundang khusus Suku Usatnesi Sonaf’kbat dengan perihal sosialisasi dengar pendapat bersama camat Biboki Tanpah dan selanjutnya tidak menemukan penyelesaian;
4.Pada tanggal 25 Juni 2012 pemerintah desa mengeluarkan surat undangan dengan perihal sosialisasi AMDAL akan tetapi sosialisasi tersebut tidak terlaksana, karena dari pihak penolak langsung bertindak dengan tegas menolak sosialisasi AMDAL. Dan pihak pemerintah desa dan tidak melanjutkan janjinya sehingga pada saat itu, perusahaan langsung meninggalkan lokasi desa Oekopa dengan janji tidak akan kembali lagi untuk melakukan pertambangan ternyata;
5.Pada tanggal 27 Juni 2012 dari Pihak Perusahaan mengingkari janji dan kembali ke lokasi pertambangan di desa Oekopa dan esok harinya;
6.Pada tanggal 28 Juni 2012 Perusahaan langsung mengadakan aktivitas dengan cara mengukur lahan langsung membayar lahan dengan luas areal 25 are sampai 1 ha dibayar dengan harga sebesar 2 juta rupiah. Pada tanggal yang sama Kami dari Usatnesi dan Forum melakukan peneguran terhadap investor pertambangan mangan akan tetapi tanggapan dari perusahaan mengatakan bahwa kami mendapat kuasa dari pemerintah desa untuk terus melakukan aktivitas selanjutnya walaupun ada penolakan
7.Pada tanggal 1 Juli 2012 dari pihak perusahaan mencoba mengadakan Upacara Adat di rumah adat Usatnesi sonaf’kbat dan ternyata kedatangan perusahaan langsung ditindaki dengan tegas karena dinilai tidak sesuai dengan prosedure budaya orang biboki
8.Pada tanggal 14 Juli 2012 keterwakilan 3 orang dari perusahaan untuk mengklarifikasi bersama Usatnes Sonaf’kbat dan janjinya dari ketiga orang utusan perusahaan itu menyatakan esok harinya aktivitas perusahaan akan dihentikan sementara sambil menunggu keputusan yang jelas akan tetapi perusahaan terus mengingkari janjinya dengan aktivitasnya terus berlanjut;
9.Pada tanggal 19 Juli 2012 camat Biboki Tanpah mengambil data atau pertimbangan bersama penolak dan data tersebut akan disampaikan pada Bupati Timor Tengah Utara
10.Pada tanggal 3 agustus 2012  ketua komisi C DPRD TTU bersama dua anggota bertemu langsung dengan pihak penolak di kantor desa Oekopa dengan tujuan menghimpun usulan penolak.

Wilayah Persawahan Rakyat yang dekat dengan pemukiman rakyat ini akan dibangun stok file dan wilayah pertambangan mangan seluas 200 ha jaraknya 50 M dari persawahan.

Dipublikasi di Tambang | Meninggalkan komentar

Kawasan Penyangga Oekopa Jadi Tambang Mangan

Desa Oekopa terletak di Kecamatan Biboki Tanpah, Kabupaten Timor Tengah Utara, Propinsi NTT. Secara Administrasi-geografis, desa Oekopa sebelah Utara Berbatasan dengan dengan desa Tualene, Selatan dengan desa Oerinbesi, Sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Belu, Sebelah Barat berbatasan dengan desa Tautpah. Jumlah penduduk di desa Oekopa, 1.271 jiwa (2010), 1.563 (2011). Desa memiliki beberapa sumber mata air yakni: Oe Tobe, oe nenas, oe cikam, oe ekam, oe oni, oe sanlat yang mana akan mengairi persawahan oekopa seluas 840 ha,  selain  hamparan persawahan lurasik, Inggareo. Hamparan persawahan ini selama ini menjadi salah pemasok beras di Kabupaten TTU dan Belu.

Itu berarti bahwa wilayah Oekopa merupakan salah satu wilayah yang sungguh penting bagi kabupaten TTU.

Kini wilayah desa ini menjadi tidak nyaman karena akan dijadikan sebagai wilayah pertambangan mangan dan bahkan dibangun pabrik pengolahan biji dan pemurnian bijih Mangan. Dan itu telah dilegitimasi dalam surat Bupati TTU No. Ek.540/102/IV/2012 tentang Ijin Prinsip Pembangunan Pabrik Pengolahan dan Pemurnian Bijih Mangan kepada PT. Gema Energy Indonesia. Dikeluarkannya perijinan ini telah membuat pro-kontra di antara masyarakat Oekopa yang selama ini hidup rukun karena mayoritas penduduk adalah petani sawah.

Dari hasil investigasi lapangan, ditemukan pro-kontra ini karena dilandaskan pada bedanya basis analisa warga. Kelompok pro tambang melihat bahwa pertambangan mangan akan membawa peningkatan pendapatan ekonomi. Bagi warga yang lahannya masuk dalam wilayah pertambangan maka akan mendapatkan 22,5 juta sebagai biaya ganti rugi. Tetapi sebagai ikatan, setiap warga pemilik lahan akan diserahkan 2 juta namun pada pelaksanaannya uang yang diserahkan hanya sebesar 1 juta rupiah. Sedangkan pohon jati digatirugi dengan harga yang bervariasi, yang besar 500 ribu – 50 ribu. Menurut Kepala Desa Oekopa, Hendrikus bahwa pertambangan mangan di desa ini sedang dilakukan pemboran untuk mencari mangan (09/08/12). Kami akan mempersiapkan agar semua kesepakatan itu ditandatangani di atas meterai.

Sedangkan kelompok kontra yang diwakili oleh Gabriel Manek melihat bahwa wilayah pertambangan mangan ini akan mengganggu wilayah penyanggah. Karena kawasan pertambangan itu berada di atas gunung yang mana dibawahnya terdapat pemukiman dan persawahan rakyat. Dan malah itu adalah kawasan ternak yang sementara 700-an sapi dilepas di sana. Karena atas dasar ini kami di Oekopa telah membentuk sebuah Forum Peduli Kelestarian Lingkungan Hidup. Saya secara tegas menolak adanya pertambangan di Oekopa, karena wilayah ini adalah wilayah pertaniana (persawahan). Sedangkan janji perusahaan  bahwa akan dibuatkan tangki penampungan limbah dan akan dilakukan penanaman pohon setelah dilakukan pertambangan. Dan perusahaan akan memperbaiki  kapela (gereja) di kampung oekopa, saya tidak yakin itu dilakukan, Ujar Gab Manek di Oekopa (9/8/12)

PT GEI sedang melakukan Pemboran Mangan di Kawasan Penyangga Oekopa

Dipublikasi di Tambang | Meninggalkan komentar