16 Suku Tolak Tambang Mangan: Aspirasi Masyarakat Selama Ini Terabaikan

Kefamenanu, Kompas – Sebanyak 16 suku di Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, menggelar sumpah adat, mencegah penambangan mangan dan pembangunan pabrik pemurnian batu mangan di Oekopa, Kecamatan Biboki Tanpah. Lokasi yang juga kampung adat itu jadi pusat pertanian, sumber mata air, dan padang penggembalaan.

Ritual adat yang digelar Sabtu (8/9) dihadiri para tua adat, perwakilan raja Biboki, aktivis lingkungan hidup, masyarakat, dan tokoh agama. Sebelumnya dilakukan perayaan misa dipimpin Pastor Piter Bataona SVD. ”Pemerintah daerah dan perusahaan agar memperhatikan aspirasi masyarakat,” kata Bataona.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Nusa Tenggara Timur Hery Naif, di Kefamenanu, Minggu (9/9), mengatakan, aspirasi masyarakat menolak kegiatan tambang yang disampaikan ke pemerintah setempat selama dua bulan terakhir ini tidak ditanggapi. Warga pun menempuh jalur alternatif, yakni mengadakan ritual adat dan sumpah adat diikuti 550 orang dari 16 suku.

Tak mau terkontaminasi

Upacara dan sumpah adat itu disebut pao pah nifu tobam tafa, artinya perlindungan alam semesta dan manusia yang menghuninya. Siapa yang melanggar ritual dan sumpah adat akan menanggung risikonya.

”Mereka ingin sawah seluas 840 hektar, padang penggembalaan, hutan lindung, sumber air, dan permukiman warga tidak rusak dan terkontaminasi tambang,” ujarnya.

Ritual adat diselenggarakan di dusun Busan, (kampung tua) terdapat kuburan leluhur, rumah adat, dan sejumlah benda adat peninggalan tua. Di tempat ini, hewan kurban berupa tiga ekor babi dan tujuh ekor ayam jantan disembeli, darah hewan diperciki pada pohon, hutan, dan batu-batuan di lokasi yang bakal dijadikan kawasan tambang.

”Leluhur diundang hadir menjaga kawasan itu karena aspirasi masyarakat yang menolak tambang tidak diperhatikan pemerintah. Semua orang, termasuk pemda dan pengusaha, dilarang membawa alat berat memasuki kawasan Oekopa guna merusak hutan dan lahan pertanian warga di dalamnya,” kata Naif.

Sekitar 100 meter dari dusun itu dipatok titik-titik pengeboran mangan dan pembangunan pabrik oleh PT GEI. Jika aktivitas itu dilanjutkan, pusat pemakaman leluhur, kampung adat, dan lahan persawahan 840 hektar di kawasan itu bakal rusak.

Utusan Raja Biboki, Subero Neno Biboki, berpendapat, sejak dulu warga hidup aman. Mereka juga tidak pernah mengalami kelaparan karena alam sudah menyediakan hutan, lahan subur, padang penggembalaan, dan sumber air.

Jika pabrik pemurnian mangan dibangun, peluang pencemaran dan kerusakan hutan besar. Perusahaan cenderung mengejar untung ketimbang memperhatikan lingkungan, apalagi sudah menyerahkan dana jaminan pelestarian lingkungan kepada pemerintah setempat. Pemkab telah membangun irigasi bernilai miliaran rupiah. Sekitar 4.000 ton gabah kering diproduksi dari kawasan Oekopa. (KOR)

Sumber: Kompas 10 September 2012 hlm. 22.

Tentang WAHANA TANI MANDIRI

Wahana Tani Mandiri yang disingkat WTM didirikan, 29 Januari 1996. WTM adalah sebuah lembaga non-profit yang melakukan advokasi teknis pertanian kepada petani dan advokasi kebijakan agar berpihak pada kaum tani. WTM beralamat Kantor pusat : Jl. Feondari, Tanali, Bhera, kec. Mego, Kab.Sikka. Sedangkan untuk memudahkan komunikasi dengan berbagai pihak maka WTM memiliki kantor penyanggah : Jl. Wairklau, Lorong Kantor Dinasi Koperasi Kabupaten Sikka, NTT.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s