SSCBDA DIGELAR DI KUPANG

SSCBDA DIGELAR DI KUPANG

Kupang – Walhinews, South-South Citizenry Based on Development Academy (SSCBDA), Akademi Pembangunan Berbasis Masyarakat Selatan – Selatan telah digelar di Hotel Sasando Kupang (21 – 23/05). Kegiatan ini diselenggarakan lima kemitraan untuk bencana (Partners for Resielience) yakni: Palang Merah Belanda, CARE Belanda, Coraid, Wetlands international, Pusat Iklim Palang Merah dan Bulat Sabit Merah bekerja sama dengan kemitraannya di Indonesia. Kegiatan bertemakan “Meningkatkan Ketahanan Masyarakat dalam Dunia yang sedang Berubah” dihadiri oleh perwakilan kalangan masyarakat, organisasi masyarakat sipil, para akademisi, pusat pengetahuan, utusan pemerintah dan para praktisi Nasional.

Tujuan kegiatan ini untuk menyiapkan dukungan pengembangan kapasitas untuk organisasi- organisasi yang terlibat dalam pembangunan berorientasi kerakyatan dan pengurangan resiko bencana dan inisiatif adaptasi perubahan iklim di wilayah Asia Pasifik dan juga antar wilayah. Sub-Akademi Pembangunan Berbasis Masyarakat Selatan – Selatan menyiapkan suatu tempat bagi masyarakat untuk berbagi dan belajar satu sama lain, membagi analisis resiko dan masalah masyarakat, serta melakukan pertukaran solusi dan pilihan – pilihan. Dalam proses ini, para akademisi, organisasi non pemerintah, pemerintah, sektor swasta dan pemangku kepentingan yang lainnya melibatkan diri secara aktif dan belajar dari masyarakat

Kegiatan ini diawali dengan pelaporan panitia, presentasi tentang Parterns for Resielience oleh perwakilan PfR serta pengantar SSCBDA yang dipandu oleh Torry Koeswardoyo (Pikul). Kegiatan ini dibuka secara resmi oleh Setda NTT yang mewakili Gubernur NTT, dilanjutkan dengan presentasi oleh Ema Rahmawati, Asisten Deputi Kementrian Lingkungan Hidup.

Setelah ceremonial pembukaan, peserta dibagi dalam beberapa kelompok sesuai dengan minat peserta yang sudah terdaftar. Ada 5 tema yang ditawarkan pantia, diantaranya: Pertama. Ketahanan dan Manajemen Air: Strategi Masyarakat untuk Memanen Air di Savannah. Kedua, Ketahanan dan Mata Pencaharian Berkelanjutan: Mekanisme Bio – Rights dan Manajemen Keberlanjutan di Daerah Pesisir. Ketiga, Ketahanan dan Kemampuan Adaptasi: Adaptasi Pertanian terhadap Perubahan Iklim bagi Para Petani. Keempat, Ketahanan dan Energi Bio – fuel: Penggunaan Energi Berdampak Kecil bagi Masyarakat Pedesaan. Kelima, Ketahanan dan Pengurangan Resiko Bencana: Strategi Berbasis Masyarakat untuk Kesiapsiagaan Menghadapi Banjir.

Setelah pembagian kelompok, dilanjutkan ke ruang sesi tematik untuk berbagi dan bertukar pikiran serta pengalaman yang sudah dilaksanakan untuk masyarakat.

Regina Muki, staf Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) Daerah NTT, memilih untuk bergabung dalam kelompok tema “Ketahanan dan Energi bio – fuel: penggunaan energi berdampak kecil bagi masyarakat pedesaan”. Kelompok yang berjumlah 14 orang yang tergabung dari perwakilan masyakat dari pulau timor dan flores difasilitasi oleh Lilik dari LPTP.

Pada kesempatan pertama, Lilik menyampaikan tentang pemanfaatan energi alternatif yang bisa diterapkan di masyarakat pedesaan dengan memanfaatkan sumber daya yang ada. Misalnya, energi yang dipaparkan yakni: Tungku hemat Energi dan Biogas. Lilik memaparkan alasan mengapa menawarkan tungku hemat energi, karena melihat pola pemanfaatan kayu bakar secara tidak bijaksana oleh masyarakat. Kayu yang didapatkan dengan menebang kayu di hutan sekitar desanya yang dapat berdampak pada kerusakan lingkungan. Diharapkan dengan penggunaan tungku hemat energi dapat meminimalisir pemanfaatan kayu bakar.

Beberapa peserta lainnya menambahkan bahwa pengggunaan tungku hemat energi pun masyarakat tetap menggunakan kayu sebagai sumber utama energinya, walaupun jumlah kayu yang digunakan tidak terlalu banyak. Penebangan kayu di hutan terus terjadi. Oleh karena itu, mereka menawarkan untuk penggunakan briket arang ataupun pemanfaatan serbuk kayu sisa mebel sebagai sumber bahan bakarnya.

Biogas yakni gas/energi yang dihasilkan dari kotoran hewan ternak yang dapat dimafaatkan untuk menyalakan kompor gas dan penerangan dengan menggunakan lampu yang dirancang khusus dengan pehitungan 2 ekor sapi atau 4 ekor babi dapat memenuhi kebutuhan memasak rumah tangga selama 4 jam. Sedangkan kotoran yang dimanfaatkan sebagai pupuk organik yang berkualitas tinggi. Masyarakat diminta untuk membangun instalasi biogas dengan biaya Rp. 6.000.000. Ini adalah pembiayaan yang sangat murah dan ramah lingkungan.

Selanjutnya peserta diberikan waktu untuk berdiskusi serta memberikan contoh – contoh lain dari pemanfaatan energi alternatif yang sudah diterapkan atau mungkin bisa diterapkan di masyarakat. Selain itu peserta diminta memberikan masukan tentang materi yang telah dipaparkan fasilitator sebelumnya.

Pada sesi diskusi, Jeni dari LPM UNDANA menyatakan bahwa akan sulit untuk mengubah pola pikir masyarakat di NTT khususnya pulau Timor yang sudah sejak turun-temurun memiliki tradisi menggunakan kayu api sebagai sumber utama energi untuk memasak beralih ke tungku hemat energi ataupun menggunakan biogas. Masyarakat sulit menerima perubahan yang ditawarkan.

Namun, Donald delegasi Genk Motor Imut (Aliansi Masyarakat Peduli Ternak) menyatakan bahwa bila kita menggunakan pendekatan sesuai dengan kearifan lokal masyarakat setempat, maka tidak susah untuk merubah pola pikir masyarakat yang mengganggap biogas merupakan sesuatu yang sulit lakukan dan biayanya mahal. Lebih lanjut, Donald menegaskan untuk mengurangi biaya yang harus dikeluarkan untuk membangun instalsi biogas lebih baik memanfaatkan barang – barang bekas seperti drum ataupun ban dalam bekas sebagai media untuk pembuatan biogas. Biogas tidak hanya dihasilkan dari kotoran ternak tapi dapat juga memanfaatkan limbah tahu dan sayur – sayuran bekas di pasar.

Pada hari kedua pelaksanaan SSCBDA peserta dibagi dalam beberapa kelompok untuk membahas tentang pemanfaatan energi alternatif yang sudah dibahas sebelumnya untuk melihat apa keuntungan dan kelemahan dari setiap energi alternatif yang ditawarkan Tidak semua pemanfaatan energi alternatif bisa diterapkan di semua daerah. Ada beberapa kelemahan dari pemanfaatan energi alternatif seperti: biogas hanya bisa diterapkan di daerah yang cukup air. Sedangkan untuk daerah kering akan susah. Sedangkan Solar sel hanya bisa diterapkan di daerah yang banyak terpapar sinar matahari. Sebab, sumber energi utamanya dari matahari dan perlu tenaga khusus untuk perawatannya. Untuk kincir angin hanya bisa digunakan di daerah yang selalu berangin (memililiki angin yang cukup untuk menggerakan kincirnya). Biaya yang dibutuhkan cukup besar dan harus dibangun jauh dari daerah pemukiman masyarakat karena menimbulkan bising. Kincir angin juga banyak membunuh burung yang terbang di sekitarnya.

Dari semua penggunanan energi alternatif yang ada tentunya memiliki keuntungan dan kelemahannya. Misal, Biogas dapat menambah pendapatan ekonomi keluarga. Hasil tambahan dari biogas adalah memanfaatkan kotoran ternak yang mana menghasilkan pupuk yang bernilai ekonomis tinggi dan untuk peternakan sendiri jangka waktu pemeliharaannya lebih singkat karena sapi ataupun babinya dikandangkan dan mudah perawatannya dibandingkan dilepaskan dialam bebas.

Dari diskusi-diskusi itu, dihasilkan beberapa rekomendasi agar peserta menjadi pionir perubahan, yang mana menjadi contoh dalam pemanfaata biogas dan tunggu hemat energi. Untuk partners for resilience dan pemerintah hendaknya pemanfaatan energi alternatif tidak hanya dijadikan sebagai sebuah proyek tetapi merupakan sebuah gerakan keberlanjutan.

Menutup kegiatan pelatihan ini, dilakukan pameran inovasi yang menampilkan semua hasil – hasil kerajinan tangan dari tiap peserta maupun komunitas. kemudian SSCBDA ditutup secara resmi oleh ketua panitia penyelenggara ditandai dengan mengumumkan Nepal sebagai tempat pelaksanaan SSCBDA yang ke-6, serta pembagian secara simbolis sertifikat bagi peserta dan sebuah selendang Timor sebagai cendera mata.

Kemudian rombongan peserta melakukan Tour keliling kota Kupang di akhiri dengan melihat keindahan Sunset di Pantai lasiana Kupang.
Sayonara………….!!!!!

Penutur Cerita: Regina Muki, Staff WALHI NTT

 

Tentang WAHANA TANI MANDIRI

Wahana Tani Mandiri yang disingkat WTM didirikan, 29 Januari 1996. WTM adalah sebuah lembaga non-profit yang melakukan advokasi teknis pertanian kepada petani dan advokasi kebijakan agar berpihak pada kaum tani. WTM beralamat Kantor pusat : Jl. Feondari, Tanali, Bhera, kec. Mego, Kab.Sikka. Sedangkan untuk memudahkan komunikasi dengan berbagai pihak maka WTM memiliki kantor penyanggah : Jl. Wairklau, Lorong Kantor Dinasi Koperasi Kabupaten Sikka, NTT.
Pos ini dipublikasikan di Berita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s