Pemprov Ngotot Terima Tambang

Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTT menerima pertambangan dengan dua syarat, yakni investasi pertambangan yang meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan memperhatkan aspek lingkungan.

Gubernur NTT, frans Leburaya mengatakan itu saat menjawab rumahalir.or.id, Selasa (12/6), ketika ditanya sikap Pemprov terhadap berbagai aksi protes masyarakat yang menolak tambang.

“Menurut saya ada dua hal yang perlu diperhatikan yaitu manfaat untuk rakyat serta komitmen untuk melakukan reklamasi,” jelasnya.

Pertambangan, tegasnya, mesti berdampak langsung bagi masyarakat disekitar lokasi. Pemprov tidak menginginkan kerusakan lingkungan akibat pertambangan. “kita minta para investor untuk menggunakan tekhnologi yang lebih tepat,” jelasnya.

Aksi penolakan tambang, kata dia, antara lain karena kurangnya pemahaman masyarakat terhadap tambang. “namanya tambang pasti ada dampak negative terhadap lingkungan. Untuk itu kita minta investor memperhatikan dan mengatasi masalah pertambangan,” Jelasnya.

Diperlukan pembahasan dan kesepakatan bersama investor untuk mengurangi kerusakan lingkungan akibat tambang.

Tambang, katanya, ditolerir di NTT jika memperhatikan manfaatnya bagi masyarakat dan investor berkomitmen melakukan reklamasi.

Langkah yang diambil Pemprov menyikapi maraknya penolakan tambang di NTT, kata Leburaya, yakni melakukan sosialisasi tentang tambang kepada masyarakat. “tentunya kita menginginkan agar tambang itu bermanfaat bagi masyarakat. Kedepan kita akan melakukan sosialisasi. Ujarnya.

Hal senada disampaikan Plt Kepala Badan Lingungan hidup (BLH) Provinsi NTT, Andreas Jehalu. Ia menjelaskan penolakan tambang yang dilakukan masyarakat karena minimnya sosialisasi. Selain itu, Pemprov meminta pemkab untuk mempertimbangkan dan mengkaji secara teliti mengenai dampak pertambangan sebelum memberikan Izin Usaha pertambangan.

Ditanya tentang 400-an IUP yang telah dikeluarkan pemerintah kabupaten, dia kembali menegaskan bahwa pemprov akan meminta pemkab mengkaji kembali IUP yang telah dikeluarkan.

Buktikan Lewat PAD

Terpisah, Direktur Walhi NTT, Herry Naif, mengatakan tidak bisa menerima sikap pemprov NTT yang menerima tambang dengan syarat memperhatikan kesejahteraan dan lingkungan. Semua pertambangan di NTT, kata dia, tidak ada satupun yang meningkatkan PAD. Coba Tanya mereka, daerah mana yang maju karena tambang? Pasti mereka tidak bisa menjawab. tukasnya.

Soal alasan reklamasi, Walhi NTT sangat meragukannya. Alasannya, dari 421 IUP yang dihimpun Walhi, tidak ada satu pun yang dilakukan reklamasi oleh perusahaan dan pemerintah daerah, yang ada malah kerusakan permanen.

Sementara itu, Ketua FORMADDA NTT, Melky Nahar, menilai bahwa argumentasi yang dibangun Pemprov terkait syarat terima tambang yakni kesejahteraan masyarakat dan lingkungan hidup merupakan alasan klasik.

“Gubernur Frans Leburaya, sudah sejak dulu bangun argumentasi yang sama. Pernahkah dia turun langsung ke lokasi tambang? Tahukah dia soal seberapa besar kesejahteraan masyarakat karena hasil tambang?,” tanyanya dengan nada sinis.   

Kalau mau tahu bukti, tandasnya lagi, silahkan Gubernur turun langsung di lokasi tambang. Biarkan realitas dan fakta yang berbicara.

Tentang WAHANA TANI MANDIRI

Wahana Tani Mandiri yang disingkat WTM didirikan, 29 Januari 1996. WTM adalah sebuah lembaga non-profit yang melakukan advokasi teknis pertanian kepada petani dan advokasi kebijakan agar berpihak pada kaum tani. WTM beralamat Kantor pusat : Jl. Feondari, Tanali, Bhera, kec. Mego, Kab.Sikka. Sedangkan untuk memudahkan komunikasi dengan berbagai pihak maka WTM memiliki kantor penyanggah : Jl. Wairklau, Lorong Kantor Dinasi Koperasi Kabupaten Sikka, NTT.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s