Kaum Muda Perlu Terlibat dalam Aksi Penyelamatan Lingkungan di NTT

Kupang, Walhinews: Pendidikan Kader adalah kebutuhan dan wujud regenerasi dalam sebuah organisasi. Pendidikan Kader dimaksud untuk menciptakan generasi yang handal untuk menghadapi perkembangan zaman yang terus bersaing dalam berbagai aspek kehidupan. Lebih dari, untuk merespon berbagai permasalahan sosial baik itu persoalan lingkungan hidup, HAM, demokrasi, perempuan dan anak dan berbagai isu lainnya, dibutuhkan sebuah upaya peningkatan kapasitas yang terus dilakukan.

Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Kupang dan WALHI NTT menyelenggarakan Pendidikan Advokasi lingkungan, di Sekretariat GMNI, Jalan Bajawa, Fatululi, Kota Kupang (28/04). Kegiatan ini difasilitasi oleh Melky Nahar, Deputi WALHI NTT. Sedangkan Nara sumber dalam pendidikan ini, Herry Naif (Direktur WALHI NTT) yang dihadiri oleh 30-an anggota GMNI dan Tim Walhi NTT.

Dalam presentasi itu, Herry menjelaskan mengenai apa itu advokasi dalam kaitan dengan lingkungan hidup. Bahwa banyak rakyat NTT menjadi korban dari sebuah pengelolaan sumber daya alam yang tidak memiliki empat pilar, yakni Pertama: Ekologi: (Ecological Wisdom atau Ecological Suistainabality), Menjadi poros ajaran gerakan lingkungan yang bercita-cita mengurangi dampak buruk kegiatan manusia. Bukan sekadar menyelamatkan kehidupan manusia melainkan mengubah cara berpikir antroposentrikatau pandangan yang mendudukan manusia pusat segalanya dan bumi dipersembahkan bagi manusia. Kedua, Keadilan: (Social Equality dan Economic Justice)mencerminkan penolakan terhadap berbagai diskriminasi, misalnya lewat perjuangan klas, gender, etnisitas, atau kebudayaan. Ketidakadilan sosial menjadi akar perusakan lingkungan hidup oleh institusi buatan manusia seperti negara dan korporat. Ketiga, Kerakyatan (Grassroots Democracy),Mengubah pola pengelolaan sumber daya alam yang berpandangan kerakyatan. Rakyat diutamakan dalam pengelolaan dimana memberi ruang hidup bagi rakyat dalam mengakses dan mengontrol pemanfaatan sumber daya alam. (bdgkan.UU No. 32 Thn 2009, membicarakan mengenai paritisapsi rakyat dan hak rakyat untuk menggugat). Keempat, Tanpa Kekerasan (Non Violece), Mencerminkan kebijakan Gerakan Hijau yang menolak setiap bentuk kekerasan dalam mengelola lawan-lawan politiknya.Gerakan Anti Kekerasan ini mengadaptasi tradisi perlawanan Gandhi di India dan Quaker di Amerika Serikat. Dari keempat pilar ini, kita coba meneropong model pengelolaan sumber daya alam di NTT, apakah sungguh memiliki empat nilai ini?

Lebih lanjut, Herry menyebutkan ada 421 Ijin Usaha Pertambangan (IUP) di NTT. Selain itu ada permasalahan tapal batas kehutanan antar masyarakat adat dengan dinas kehutanan, galian c yang tidak memiliki amdal, dll. Itu berarti, model Pengelolaan Sumber Daya Alam yang dikembangkan tanpa memperhitungkan nilai keberlajutan ekologi bagi generasi pewaris (anak-cucu). Tidak ada penataan ruang kelola yang jelas. Malah tanpa upaya mitigasi perubahan iklim dan pemanasan global. NTT adalah deretan pulau-pulau kecil yang sangat rentan terhadap bencana. Tidak heran bila setiap tahun NTT menjdi pelanggan bencana longsor, kekeringan, keterbatasan pangan.

Namun, ini perlu diperkuat dengan beberapa dasar advokasi yang mesti diperankan oleh kelompok muda. Yang perlu dipertanyakan, bahwa apakah negara telah memenuhi kewajibannya, memenuhi, melindungi dan menghormati hak-hak dasar rakyat. Atau, apakah negara hanya sebatas menyiapkan dasar-dasar normatif (produk hukum) tetapi tidak dijalankan?

Untuk itu, sebuah Kebijakan publik harus mendapat kajian, yang dilandaskan pada tiga hal penting. Pertama,Isi/Naska Hukum, Uraian tertulis dalam bentuk peraturan perundang-undangan. Proses Legislasi dan Yurisdiksi. Penyusunan draft peraturan, pengajuan draft tandingan, pengujian substansi, peninjauan UU, yurisprudensi (keputusan mahkamah peradilan) dan Litigasi. Kedua, Tata Laksana hukum, Perangkat kelembagaan dan aparat pelaksana hukum. Apa Formasi dan konsolidasi organisasi pemerintah sebagai perangkat kelembagaan dan pelaksana kebijakan. Keputusan politik dan manajemen kepentingan melalui lobi, mediasi, negosiasi, konspirasi dan manipulasi. Ketiga,Budaya Hukum. Pemahaman, penafsiran, terhadap pelaksanaan Sistem Hukum. Proses Sosialisasi dan Mobilisasi Pembentukan kesadaran, pengorganisasian, opini publik dan tekanan massa terorganisir untuk mencapai pola perilaku dan tindakan solidaritas.

Dengan demikian, yang perlu dimainkan GMNI dalam menyikapi permasalahan lingkungan hidup, harus membagi diri dalam tiga kelompok yakni: kerja basis(ground works) “Dapur” gerakan advokasi. Bangun basis massa, pendidikan politik, Bentuk lingkar inti, mobilisasi aksi. Dan ini kemudian didukung dengan Kerja garis depan (front lines). Ada yang menjadiJuru bicara & runding, Pelobbi, Menggalang sekutu. Agar kedua tim menjadi kuat makan perlu ada Kerja Pendukung. (Supporting Units). Menyediakan dukungan Dana, logistik, Informasi, data dan akses. Unit kerja ini biasanya tidak disukai berbagai kalangan karena dia tidak akan memiliki popularitas di tingkat publik.

Presentasi ini mendapat respon dari para kader GMNI. Bahwa, isu lingkungan di NTT tidak menarik dibicarakan kaum muda. Mereka lebih memilih isu politik. Untuk itu, WALHI diminta menyeringkan mengenai seluk-beluk perjuangan dalam menghadapi ekspansi modal yang lagi santer dibicarakan media. Menanggapi itu, Herry mempresentasikan tentang beberapa konsen advokasi WALHI yang sedang dijalankan dimana menginginkan agar dibangun komunitas contoh dengan mengembangkan potensi lokal yang dimiliki. Dan ini perlu dibangun dengan jaringan lokal dan nasional yang kuat. Lebih dari itu, ke depan dibutuhkan peran kaum muda entah itu organisasi mahasiswa ataupun kelompok muda lainnya untuk terlibat dalam kampanye lingkungan hidup. NTT (Nusa Tanpa Tambang). Kampanye itu harus dilakukan di berbagai kelompok. Kesempatan ini, diharapkan GMNI kemudian serius melihat advokasi lingkungan sebagai permasalahan yang harus direspon.

Mengakhiri diskusi ini, para kader mengidentifikasi beberapa permasalahan yang sementara ditangani GMNI misalnya: reklamasi pantai di sepanjang pesisir kota kupang, yang mana akan dibangun berbagai hotel mewah. Oleh perlu didorong sebuah penataan kota yang berpihak pada kaum marginal, dimana rakyat diberi ruang hidup yang luas dalam akses dan kontrol.

Jovianus Nahak, Ketua GMNI Cabang Kupang dalam mengakhiri diskusi ini memberikan apreseasi kepada WALHI atas kesediannya untuk menyeringkan berbagai pengalamannya. Kami berharap kegiatan malam ini menjadi titik awal untuk membangun kerja sama dalam advokasi selanjutnya. GMNI secara organisatoris telah menyiapkan struktur yang mengurus tentang lingkungan hidup. Diharapkan dengan gagasan baru yang barusan dibahas ini menjadi referensi yang akan memperkaya dan memperkuat advokasi lingkungan yang akan dibangun ke depan. Ia mengatakan bahwa isu lingkungan menjadi penting bagi kita semua.

Tanpa lingkungan hidup yang baik kita tidak dapat menjalankan aktivitas yang lain. Saya ajak kita semua untuk bergandengan tangan dalam memperjuangkan proses pelestarian lingkungan yang sedang dirusaki oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab, demikian tutur Jovi.

Tentang WAHANA TANI MANDIRI

Wahana Tani Mandiri yang disingkat WTM didirikan, 29 Januari 1996. WTM adalah sebuah lembaga non-profit yang melakukan advokasi teknis pertanian kepada petani dan advokasi kebijakan agar berpihak pada kaum tani. WTM beralamat Kantor pusat : Jl. Feondari, Tanali, Bhera, kec. Mego, Kab.Sikka. Sedangkan untuk memudahkan komunikasi dengan berbagai pihak maka WTM memiliki kantor penyanggah : Jl. Wairklau, Lorong Kantor Dinasi Koperasi Kabupaten Sikka, NTT.
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s