Perubahan Iklim yang Ekstrem Ancam NTT

Lingkungan hidup selalu menjadi komoditi dari berbagai konsep dan praktik pembangunan. Lingkungan hidup diperjualbelikan seenaknya oleh para pihak yang berkepentingan tanpa mempertimbangan aspek keseimbangan ekologi dan keadilan ekologi antar gerasi. Padahal, lingkungan hidup ini bukan hanya ditujukan pada generasi sekarang tetapi harus terus diwarisi.
Herannya, kerusakan lingkungan hidup di Indonesia pada umumnya dan Propinsi Nusa Tenggara Timur pada khususnya kian hari kian bertambah parah. Bencana alam seperti  banjir, longsor, puting beliung dan kekeringan menjadi realitas yang tak terhindarkan, bahkan telah menjadi rutinitas yang dialami.
“Kemerosotan lingkungan hidup saat ini lebih disebabkan pembangunan yang tidak memperhatikan kelangsungan lingkungan hidup dan masa depan generasi manusia yang akan datang,” demikian salah satu butir hasil studi pengelolaan sumber daya alam yang adaptif perubahan iklim yang diselenggarakan oleh Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indoinesia (Walhi) NTT, di Kupang,  29-31 Maret 2012 di penginapan yayasan peduli sesama, (SANLIMA) Kupang.
Kegiatan studi yang dilakukan di 6 kabupaten di NTT yakni Kabupaten Manggarai Barat, Ende, Sumba Timur, Sumba Tengah, TTU da TTS itu menyimpulkan bahwa kondisi lingkungan hidup di ke-6 kabupaten khususnya dan NTT pada umumnya sudah mengalami kemerosotan yang signifikan. Hasil studi ini memperlihatkan dampak perubahan iklim akibat pemanasan global yang semakin  masif dan mengancam kehidupan manusia NTT dan alam lingkungan. Semua ini akan diperparah dengan masuknya industri ekstraktif yang tidak mempertimbangkan NTT sebagai deretan pulau-pulau kecil, yang rentan bencana.
Kini ekspansi industri ekstraktif (pertambangan)  masif dilakukan di NTT terhadap sumberdaya alam yang serba terbatas. Pada kenyataannya telah mengarah pada tindakan pengerusakan dan pemusnahan ekosistem lingkungan hidup dan sumber-sumber kehidupan tanpa sebuah upaya pemulihan ekologi.
Bukankah julukan “NTT sebagai daerah yang tandus, kering kerontang dan tergolong miskin harus dieksploitasi dengan alasan peningkatan PAD dan kesejahteraan. Tidak pernah terlintas sebuah kebijakan perlindungan terhadap daerah ini yang serba terbatas. Malah hampir semua program pembangunan kurang memperhatikan kelestarian alam lingkungan hidup.
Kampanye propinsi akan memprogramkan penanaman jagung dan ternak, pariwisata, cendana diiringi dengan 400-an ijin pertambangan akan menuai sukses. Ataukah ini hanya seribu julukan bagi NTT,” ujar Direktur Walhi NTT, Herry Naif, saat membuka Acara Meeting Analisa Data, Studi Pengelolaan Sumber daya alam di NTT yang adaptif Perubahan Iklim di NTT.

Ia mengatakan, studi pengelolaan sumber daya alam yang adaptif perubahan iklim sengaja dilakukan untuk melihat sejauhmana pemerintah responsif terhadap perubahan iklim dan bagaimana mengatasi dampak-dampak yang diakibatkan oleh perubahan iklim global.  Hasil studi itu juga akan direkomendasikan kepada pemerintah baik propinsi maupun kabupaten di seluruh NTT agar memperhatikan secara serius masalah perubahan iklim ini.

Tentang WAHANA TANI MANDIRI

Wahana Tani Mandiri yang disingkat WTM didirikan, 29 Januari 1996. WTM adalah sebuah lembaga non-profit yang melakukan advokasi teknis pertanian kepada petani dan advokasi kebijakan agar berpihak pada kaum tani. WTM beralamat Kantor pusat : Jl. Feondari, Tanali, Bhera, kec. Mego, Kab.Sikka. Sedangkan untuk memudahkan komunikasi dengan berbagai pihak maka WTM memiliki kantor penyanggah : Jl. Wairklau, Lorong Kantor Dinasi Koperasi Kabupaten Sikka, NTT.
Pos ini dipublikasikan di Berita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s