Tak Rela Mereka Lapar: Wujud Solidaritas Sosial bersama Petani

Topografi Kabupaten Sikka sebagian besar berbukit, bergunung, dan berlembah dengan lereng-lereng yang curam yang umumnya terletak di daerah pantai. Kondisi kemiringan tanah (kelerengan) cukup bervariasi, berkisar dari 0% hingga 70% dan didominasi oleh kemiringan tanah yang lebih besar dari 40% dengan luas 81.167 ha atau sekitar 46,87% dari total luas wilayah Kabupaten Sikka.

Beriklim tropis seperti pada daerah-daerah lain di Indonesia pada umumnya.Suhu berkisar antara 27°C – 29°C. Kecepatan angin rata-rata 12–20 knots. Musim panas biasanya berlangsung 7 hingga 8 bulan (April/Mei– Oktober/November) dan musim hujan kurang lebih 4 bulan (November/Desember – Maret/April). Curah hujan per tahun berkisar antara 1.000 mm – 1.500 mm, dengan jumlah hari hujan sebesar 60-120 hari per tahun.

Wilayah Kabupaten Sikka memiliki 4 (empat) jenis tanah yakni jenis tanah mediteran, litosol, regosol dan jenis tanah kompleks. Namun lebih didominasi oleh jenis tanah mediteran seluas 79.176 Ha (45,71%), sedangkan tekstur tanah didominasi oleh tanah bertekstur kasar dengan luas 108.609 Ha atau sekitar 62,71%.

Jenis penggunaan tanah yang terdapat di wilayah Kabupaten Sikka terdiri dari beberapa jenis penggunaan tanah, namun didominasi lahan pertanian yaitu seluas 90.138 Ha (52,05%), sedangkan penggunaan tanah lainnya yaitu kawasan hutan seluas 38.442,43 Ha (22,20%), semak belukar seluas 23.745 Ha (13,71%) dan lain-lain seluas 20.865,57 Ha (12,05%).

Pada tahun 2007, jumlah penduduk mencapai 295.134 jiwa (139.123 laki-laki dan 156.011 perempuan) 71.220 kk. Jumlah penduduk miskin 56.100 jiwa.Pendapatan per kapita penduduk Kabupaten Sikka atas dasar harga berlaku sebesar Rp 4.538.457,00.

Dalam usaha mengurangi kemiskinan, pemerintah telah berupaya keras dan konsisten untuk meningkatkan hasil-hasil pembangunan di desa-desa, terutama pada sektor pertanian serta koperasi dan UKM. Ada begitu banyak program yang dicanangkan pemerintah,namun belum mampu membantu masyarakat untuk meningkatkan kualitas hidup dan secara signifikan menurunkan angka kemiskinan/ ketidak berdayaan petani. Hal ini disebabkan oleh kurangnya kemampuan teknis pengelolaan serta kurangnya partisipasi masyaraat miskin dalam berbagai program pembangunan.

Selain itu, upaya penanggulangan kemiskinan juga berhadapan dengan beberapa hal krusial antara lain:

  1. Topografi wilayah kabupaten Sikka sebagian besar terdiri atas bukit-bukit dengan kemiringan yang cukup tajam rata-rata di atas 40%.

  2. Perubahan iklim (climate change) yang melanda dunia; Hujan yang biasanya mulai sekitar Novemer – April, sekarang menjadi tidak menentu. Beberapa tahun terakhir telah terjadi perubahan musim yang sangat besar. Perubahan iklim tentunya berpengaruh pada tingkat keberhasilan usaha tani lahan kering, yang mana sangat bergantung pada hujan. Banyak petani salah menafsir waktu tanam sehingga mengalami gagal panen.

  3. Rata-rata kepemilikan tanah per kepala keluarga tani seluas 0,5 –2 ha. Mayoritas lahan yang dimiliki adalah lahan kering yang miring, sehingga pada musim hujan sangat rentan terhadap erosi dan berdampak pada degradasi tanah.

  4. Pengelolaan usaha tani yang tidak memperhatikan keseimbangan alam mengakibatkan kesuburan tanah berkurang dan akhirnya mengakibatkan rendahnya produksi tanaman.

Kondisi yang digambarkan di atas berakibat pada:

  1. Kurang/menurunnya hasil tanaman pangan & hortikultura yang disebabkan oleh

  • Minimnya kemampuan dan pengetahuan petani mengelola usaha tanaman padi, jagung, umbi-umbian, kacang-kacangan;

  • Kurang adanya diversifikasi usaha tanaman pangan yang tidak didukung pasokan bibit pangan lokal,

  • Minimnya pengembangan pangan local dan tanaman buah-buahan.

  1. Kurang/menurunnya hasil tanaman perdagangan yang disebabkan oleh:

  • Jumlah tanaman perkebunan masih kurang

  • Rendahnya pengetahuan dan ketrampilan petani mengelolaan usaha tani;

  • Tanaman perkebunan sering mengalami kerusakan akibat serangan hama dan penyakit sehingga dapat mengurangi hasil produksi sampai 50%75 %.

  1. Kurangnya Hasil ternak yang disebabkan oleh :

  • Ternak mati diserang penyakit; penyakit Tetelo (ayam) dan Hoc Kolera (babi). mengakibatkan kematian sampai 80%. Serangan penyakit menceret, perut kembung (kambing) dapat mengakibatkan kematian sampai 30%.

  • Pengetahuan tentang pemeliharaan ternak masih kurang

  • Terbatasnya jumlah/jenis ternak yang dimiliki petani

Dari kenyataan tersebut, hal-hal ini dilihat sebagai permasalahan yang berpengaruh pada pemenuhan hak-hak dasar (pangan, pendidikan, kesehatan dan perumahan) untuk meningkatkan kualitas hidup layak bagi keluarga tani.

Selain itu permasalahan angka pertumbuhan penduduk kabupaten Sikka setiap tahun cukup tinggi dan mayoritas masyarakat bekerja di sektor pertanian. Kondisi ini memaksa masyarakat memperluas lahan pertanian. Perluasan lahan pertanian telah merambah daerah yang seharusnya dilindungi guna melindungi ekosistem (flora dan fauna) dan memberikan suplai air untuk pemenuhan kebutuhan air bersih dan air untuk daerah persawahan.

Permasalahan kemiskinan dan kerusakan lingkungan yang berdampak pada kerusakan ekosistem serta menurunnya debit air dan rusaknya kawasan penyangga menjadi persoalan yang semakin sulit diatasi yang kemudian dilihatnya sebagai “bom waktu”.

WALHI dan Wahana Tani Mandiri (WTM) melihat bahwa persoalan ini terjadi karena sistem pengelolaan usaha tani yang dikembangkan tidak memperhatikan kelestarian lingkungan (pada areal sekitar mata air), yang mana terjadi penebangan hutan secara sembarangan baik secara legal maupun ilegal (destructive logging) pada daerah hutan lindung dan sekitarnnya.

Kerusakan yang terparah dirasakan masyarakat petani di kabupaten Sikka saat ini adalah wilayah sekitar DAS Nangagete di Kabupaten Sikka.Degradasi lingkungan di sekitar kawasan DAS berpengaruh terhadap tingkat pemanfaatan air oleh masyarakat, terutama berdampak pada kekurangan air untuk konsumsi dan irigasi. Penurunan debit air terjadi pada musim kemarau. Dimana Sebagian areal persawahan mengalami kekeringan. Krisis ini kemudian menimbulkan konflik horizontal dan sosial oleh masyarakat huluh dan hilir.

. Selain itu degradasi lingkungan di sekitar DAS juga memiliki andil peningkatan produksi gas carbon yang berdampak pada perubahan iklim global yang telah menghadiakan gagal panen bagi petani di kabupaten Sikka tahun ini.

Semua ulasan di atas merupakan gambaran permasalahan terbesar yang dihadapi masyarakat petani kabupaten Sikka yang mana akan berdampak pada bencana rawan pangan. Atau ketersediaan pangan petani menjadi tidak cukup untuk menafkai keluarga tani dalam setahun.

Sebagai respon atas krisis pangan, petani dalam keterbatasannya melakukan perluasan lahan pertaniaan dengan harapan memperoleh hasil yang lebih banyak dan penebangan kayu untuk dijual menjadi alternatif yang tak dapat mereka hindari. Pilihan untuk mengkonsumsi umbi hutan yang beracun dan putak enau adalah jalan yang harus mereka ambil ketika mengalami musim paceklik. Kondisi ini memberikan gambaran bahwa petani di kabupaten Sikka belum berdaulat secara ekonomi sehingga sudah pasti pemenuhan hak-hak dasar, seperti: pendidikan, kesehatan, perumahan yang layak serta partisipasinya dalam berbagai sendi pembangunan.

Karena itu, “Tak Rela Mereka lapar” adalah sebuah wujud kepedulian yang dilakukan WALHI dan WTM yang didukung dompet Du’afa. Perwujudan Program “Tak Rela Mereka Lapar” dengan pengembangan program pertanian selaas alam dimana menjaga keseimbangan pengelolaan usaha tani yang tidak hanya semata untuk meningkatkan pendapatan, namun juga memperhatikan ketersediaan pangan untuk petani.

Tawaran alternatif WALHI dan WTM dalam upaya mengembalikan lumbung pangan lokal di 5 desa yang sementara menjadi fokus perhatian. Secara kapasitas masyarakat petani dilatih untuk mengembangkan pola pertanian organik yang selaras alam dan kembali mengembangkan pangan lokal yang hampir punah.

Disadari atau tidak, beberapa dekade, program beras sentris menjadi pilihan dan menjadi tolok ukur dari kualitas hidup petani. Padahal sepanjang hidup rakyat (petani) Sikka pangan lokal (Jagung lokal, umbi-umbian, kacang-kacangan, dll) telah terbukti memenuhi ketersedian pangan masyarakat.

Menyikapi krisis pangan ini pun pemerintah provinsi NTT mengembangkan program jangung agar NTT dijuluki sebagai “Propinsi Jagung”. Tetapi pada kenyataannya jagung yang dikembangkan adalah jagung hybrid/komposid. Banyak petani mengeluh karena jagung tersebut ternyata tidak tahan simpan. Keluhan ini sebenarnya mau menyampaikan bahwa kebutuhan/stok pangan jangka panjang patani terganggu. Petani butuh jagung yang bisa disimpan lama, yang akan dimanfaatkan pada saat paceklik.

Untuk itu, WALHI dan WTM dalam upaya meningkatkan kemampuan pangan petani, dikembangkan program yang berpihak pada upaya pengamanan pangan. Pengembangan pangan memang harus diposisikan pada upaya pemenuhan kebutuhan pangan petani itu sendiri. Bahwa ada suatu kebutuhan lain terkait pengembangan ekonomi keluarga yang harus dipenuhi. Namun Ini bukan harus menjadi suatu focus utama dalam pengembangan tanaman pangan .

Harus diingat, bahwa arah pengembangan usaha petani yang mengedepankan ekonomi ternyata menciptakan kemelaratan pangan petani.

Konsep pengembangan harus benar-benar mempertimbangkan permasalahan yang dihadapi oleh petani. Permasalahan yang bukan dipikirkan oleh para pengagas atau pencipta konsep yang mentereng dan intelektual.

Program harus mengedepankan beberapa kebutuhan yaitu financial, pangan dan lingkungan dalam suatu skema keberlanjutan jangka panjang. Pengembangan usaha tani petani tidak didasari suatau pendekatan sektoral yang melahirkan kepentingan sector semata. Pengembangan usaha patani harus secara holistic dari semua yang menjadi usahanya petani.

Tak Rela Mereka Lapar, merupakan suatu pilot projec kerjasama Wahana Tani Mandiri dengan WALHI yang didukung Dompet Du’afa.

Tentang WAHANA TANI MANDIRI

Wahana Tani Mandiri yang disingkat WTM didirikan, 29 Januari 1996. WTM adalah sebuah lembaga non-profit yang melakukan advokasi teknis pertanian kepada petani dan advokasi kebijakan agar berpihak pada kaum tani. WTM beralamat Kantor pusat : Jl. Feondari, Tanali, Bhera, kec. Mego, Kab.Sikka. Sedangkan untuk memudahkan komunikasi dengan berbagai pihak maka WTM memiliki kantor penyanggah : Jl. Wairklau, Lorong Kantor Dinasi Koperasi Kabupaten Sikka, NTT.
Pos ini dipublikasikan di Pangan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s