Memahami Pertambangan, Dampak dan Tahapannya

PERTAMBANGAN: PETAKA ATAU BERKAH?

Apa itu Pertambangan?
Pertambangan adalah kegiatan untuk mendapatkan logam dan mineral dengan cara membongkar tanah yang kemudian hancurkan: gunung, hutan, sungai, laut dan penduduk kampung.
Pertambangan adalah kegiatan paling merusak (alam dan kehidupan sosial) yang dimiliki orang kaya dan hanya menguntungan orang kaya.
Pertambangan adalah lubang besar yang menganga dan digali oleh para pembohong (Mark Twian)
Pertambangan adalah industri yang banyak mitos dan kebohongan:

Apa itu Lingkungan Hidup
Kesatuan ruang dengan segala benda, daya, keadaan dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan peri-kehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain.Lingkungan hidup dapat diperbaharui dan tidak dapat diperbaharui. Atau sering disebut 2 Komunitas yakni: biotic community dan abiotic community. Lingkungan Hidup tidak dibatasi oleh ruang dan waktu.

Pertambangan Vs Lingkungan Hidup
Pertambangan dan lingkungan hidup adalah dua topik yang berlawanan sepanjang masa. Pertambangan selalu dilihat sebagai bidang yang akan memberikan percepatan aliran devisa, penyedian lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, percepatan daerah tertinggal, dan lebih dari itu mengurangi kemiskinan. Semua ini merupakan mantera yang terus digulirkan untuk memberi keyakinan bagi rakyat. Hingga hari ini belum ada daerah tambang yang maju. Padahal, kegiatan ini mendapat dukungan dari negara dan dukungan modal korporasi/perusahan multi-nasional. kelompok-kelompok kritis seperti para aktivis lingkungan, akademisi dan berbagai kelompok yang pro-rakyat melihat pertambangan sebagai monster yang menakutkan.
Dari realitas dapat ditemukan bahwa di kawasan pertambangan selalu terjadi kekerasan, pelanggaran Hak Asasi Manusia (pengambilan tanah rakyat), perusakan pencemaran lingkungan dan penggerogotan kedaulatan-kedaulatan negara. Kedua kelompok ini memiliki analisis bertolak dari substansi yang berbeda. Kelompok pro pertambangan melupakan aspek lingkungan hidup dan lebih diaksentuasikan pada aspek ekonomi. Kelompok kontra tambang lebih menegaskan pada aspek keseimbangan lingkungan hidup dan keberpihakan kepada masyarakat kawasan.
Sektor pertambangan menjadi primadona yang telah membuat negara menganaktirikan sektor seperti (cendana, pertanian, perkebunan, perikanan dan kehutanan). Pertambangan dianggap gampang mendatangkan uang tunai tanpa membebani pemerintah dengan pengadaan infrastruktur. Tidak heran, bila di bumi Flobamora memiliki banyak potensi tambang, misalnya: tambang emas lembata, tambang mangan di Sirise (Manggarai), Tambang Marmer di Molo (TTS), Tambang Emas di Batu Gosok (Manggarai Barat), Tambang emas di Alor, Tambang Mangan hampir di seluruh wilayah Timor, Tambang Emas di Pulau Sumba yang mencakupi 2 kawasan Taman Nasional di Sumba (Lai Wanggi Wanggameti dan Manupeu Tanadaru). Dan rencana Tambang Emas di dua titik yakni (Waiblama dan Liakutu). Tambang Emas di Noeltoko (Kab. TTU) dan masih banyak lokasi pertambangan yang belum sempat dipublikasikan.

Tahap-Tahap Tambang
Tahap Penyelidikan Umum
Penyelidikan Umum adalah sebuah tahap dimana dilakukan penyelidikan lokasi, studi geologi dan pengambilan contoh batuan di permukaan tanah, atau sungai-sungai. Kegiatan ini dilakukan oleh para geolist untuk mencari apakah daerah yang bersangkutan terdapat mineralisasi. Penyelidikan umum adalah suatu pemeriksaan atau penyelidikan awal yang diadakan dalam usaha mengetahui indikasi-indikasi mineralisasi di suatu lahan berhubungan dengan ciri-ciri geografisnya.

Tahap Eksplorasi
Eksplorasi adalah pencarian mineral-mineral dengan memakai metode geologi, geofisika, geokimia termasuk menggunakan lubang bor, lubang ujicoba, parit, terowongan dan teknik-teknik lain, baik di permukaan maupun di bawah tanah dengan tujuan mengetahui letaknya tumpukan (deposit) mineral yang bernilai ekonomis dan juga mengetahui ciri-ciri, bentuk dan tingkat kandungan mineralnya.
Tahap Persetujuan AMDAL
AMDAL (Analisa Mengenai Dampak Lingkungan) bertujuan memberikan pertimbangan untuk menolak ataukah menerima proyek. Faktanya AMDAL hanya alat pembenaran proyek, walau dampaknya jelas merugikan rakyat dan lingkungan. Selain itu hasil AMDAL: Pertama, Dapat menunjukkan lokasi pembangunan yang layak serta wilayah persebaran dampaknya; Kedua, Dapat digunakan sebagai masukan dengan pertimbangan yang lebih luas bagi perencanaan dan pengambilan keputusan pembangunan sejak awal; Ketiga, Dapat dijadikan arahan/pedoman bagi pelaksanaan rencana kegiatan pembangunan termasuk rencana pengelolaan dan pemantauan lingkungan.

Persiapan dan Pembangunan Sarana
Pada tahap ini, terjadi pembebasan besar-besaran lahan penduduk, hutan, dan perkebunan di bakal lokasi tambang. Setelah itu dibangun berbagai sarana seperti: jalan, pemukiman (bahkan perkotaan) pembangkit tenaga listrik, dermaga, pelabuhan udara, pabrik pengolahan, penampung limbah tailing dan perumahan pekerja, dan lainnya.

Tahap Produksi/Eksploitasi
Pada tahap ini dilakukan pengalian dan pengambilan batuan, pemisahan, mineral, pembuangan limbah dan pengelolahan biji.

DAMPAK-DAMPAK PERTAMBANGAN
Dampak bagi Ekologi
Perubahan Bentangan alam (landscape)
Semua Proyek pertambangan, terutama pertambangan terbuka memerlukan lahan dalam jumlah sangat besar untuk membangun lubang tambang, pabrik pengolah biji besi, perumahan karyawan. Tentunya proses penggalian dan pengambilan batuan akan menggusur lahan pertanian, hutan, dan sumber air (hidrologi).
Aktivitas ini menyebabkan terjadinya tata air setempat, resiko bencana, longsor serta banjir. Karena permukaan tanah dikupas, digali, menjadi lubang-lubang raksasa. Banyak kasus hilangnya keanekaragaman hayati dan mata pencaharian penduduk terutama yang hidupnya bergantung pada hutan.
Lebih dari itu, perubahan bentangan alam juga akan mengubah tatanan ekologi yang selama ini ada, dan malah membawa malapetaka. Sering orang beranggapan bahwa gunung tidak punya manfaat. Padahal gunung itu berfungsi untuk mengurangi dan menahan lajunya kecepatan angin.
Pertambangan, Industri Rakus Air
Air merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia. Tanpa air manusia tidak bisa hidup. Dengan air, manusia dapat memanfaatkannya untuk menjamin kehidupannya, misal: untuk minum, mandi, cuci. Lebih dari itu air dimanfaatkan untuk persawahan, penyiraman sayur-mayur dan usaha ekonomi lain yang dapat membantu meningkatkan mutu hidup manusia.
Pertambangan merupakan industri rakus air. Misalnya; Untuk memperoleh satu gram emas membutuhkan 104 liter air. Pada setiap ton batu bara, untuk mengontrol debu dan perlindungan dan kebakaran dibutuhkan 65 hingga 120 liter air, jika penambangan secara tertutup. Dan tiga kali lipat jika penambangan secara terbuka masih ditambah 33 liter air untuk mencuci tiap ton batu batubara. Itu belum termasuk dampak terganggunya sistem air tanah akibat terbentuknya air asam. Tambang yang bisa mencemari sungai dan air tanah.

Pertambangan Menyebabkan Limbah Beracun/Tailing
Tailing adalah satu jenis limbah yang dihasilkan oleh kegiatan tambang. Selain, tailing kegiatan tambang juga menghasilkan limbah lain seperti: limbah kemasan bahan kimia dan limbah domestik. Tailing yang menyerupai lumpur kental, pekat, asam dan mengandung logam-logam berat itu berbahaya bagi keselamatan makhuluk hidup.Dampak tailing yang ditimbulkan oleh sebuah perusahan tambang berarti kita sedang bunuh diri dan anak cucu. Perusahaan tambang setiap hari membuang ribuan ton tailing ke laut yang mengancam keselamatan dan melahirkan malapetaka bagi anak cucu.
Dampak bagi Sosial – Budaya
Dalam “The forms of Capital” (1986) Piere Boudieu membagi modal menjadi modal kapital, modal budaya dan modal sosial. Modal sosial dapat secara bebas diterjemahkan sebagai hubungan atau jaringan (network) antara orang-orang yang memiliki pikiran dan gagasan sama tentang suatu hal.
Dalam konteks masyarakat lokal di lokasi pertambangan, hubungan sosial terbentuk karena kesamaan kepentingan di atas pengelolaan sumber-sumber produksi setempat, kesamaan atas tanah dan kekayaan alam, serta kesamaan sejarah dan adat budaya. Direnggutnya penguasaan masyarakat atas tanah dan kekayaan alam menyebabkan fondasi modal sosial mereka lenyap dan berdampak pada: 1). Lenyapnya daya ingat sosial, hilangnya tatanan nilai sosial yang dulunya dimiliki komunitas, 2). Putusnya hubungan silahturami antar warga menyebabkan perpecahan, persengketaan dan bahkan ke taraf konflik (saling melenyapkan eksistensi satu sama lain). Mekanisme resolusi konflik tradisional yang telah hidup dalam komunitas tidak lagi dijadikan kontrol dalam kehidupan sosial. 3). Menurunnya daya tahan tubuh, karena merosotnya mutu kesehatan, mental warga, dan seringkali munculnya penyakit-penyakit baru, baik penyakit yang berupa metabolisme akut akibat pencemaran (udara, air, tanah dan bahan-bahan hayati yang dikonsumsi), penyakit menular (kelamin)dan penyakit lain yang dibawa oleh pekerja yang berasal dari luar daerah.

Dampak Pertambangan bagi Ekonomi Masyarakat
Ekonomi dibagi menjadi kegiatan Produksi, Distribusi dan Konsumsi. Daya rusak tambang pada ekonomi setempat, merupakan penghancuran pada tata produksi, distribusi dan konsumsi lokal.
Operasi pertambangan membutuhkan lahan yang luas, dipenuhi dengan cara menggusur tanah milik dan wilayah kelola rakyat. Kehilangan sumber produksi (tanah dan kekayaan alam) melumpuhkan kemampuan masyarakat setempat menghasilkan barang-barang dan kebutuhan mereka sendiri. 2). Rusaknya tata konsumsi, lumpuhnya tata produksi menjadikan masyarakat makin tergantung pada barang dan jasa dari luar. Untuk kebutuhan sehari-hari mereka semakin lebih jauh dalam jeratan ekonomi. Uang tunai yang cendrung melihat tanah dan kekayaan alam sebagai faktor produksi dan bisa ditukar dengan sejumlah uang tidak lebih. 3). Rusaknya tata distribusi, kegiatan distribusi setempat semakin didominasi oleh arus masuknya barang dan jasa ke dalam komunitas.
Dibangun opini publik bahwa pertambangan akan membawa kesejateraan dengan meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat setempat. Tetapi yang terjadi seperti yang dikemukakan di atas, maka janji investor dan pemkab adalah peningkatan ekonomi rakyat akan berubah roman menjadi kuli di negeri sendiri.
Tawaran akan pertambangan perlu dikaji secara cermat dengan melihat fakta-takta yang sudah ada. Bukan dengan pragramtis lalu pertambangan disetujui, setelah itu baru diakhiri dengan kekesalan.

Dampak Pertambangan bagi Aspek Politik
Politik seringkali diartikan sebagai proses pembuatan keputusan dalam sebuah kelompok. Dickerson dan Flanagan, politik sebagai “sebuah proses resolusi konflik (kepentingan), dimana segala daya dan usaha dikerahkan untuk pencapaian tujuan bersama”. Dalam kenyataannya, ia berujud upaya seseorang atau sekelompok orang untuk mencapai tujuannya dengan berbagai cara, bisa mempengaruhi dan meyakinkan, membohongi atau bahkan menyingkirkan pihak lain.Harold Lasswell, politik yaitu: siapa mendapatkan apa, kapan, dimana dan bagaimana?
Politik lokal merupakan sarana penampungan dan pengakomodasian kepentingan warga setempat. Politik menjadi sasaran daya rusak untuk memenangkan kepentingan industri tambang. Ini dapat dilihat dari beberapa indikasi berikut: 1). Margininalisasi tata-kepemimpinan yang membela kepentingan warga oleh negara dan korporasi. Ini bisa dilakukan dengan mendorong penggunaan perangkat-perangkat kepemimpinan formal, yang harus patuh kepada ketentuan negara. 2). Rontoknya kelembagaan politik setempat digantikan oleh tata kelembagaan yang patuh kepada aturan-aturan negara. Ini menyebabkan lenyapnya ruang aspirasi dan partisipasi warga, dalam pengambilan keputusan politik setempat. Proses politik menjadi ajang legitimasi sosial bagi operasi tambang di tanah-tanah milik dan wilayah kelola warga. 3.) Program Community Development adalah cara yang digunakan untuk menggusur kelembagaan politik setempet. Dan ini biasanya dipakai jaringan LSM/NGO makanya banyak NGO tidak banyak berkomentar tentang pertambangan atau kerusakan lingkungan hidup. LSM model ini biasanya sangat akrab dengan Birokrat dan sangat kompromistis.

Kesimpulan
Akselerasi pembangunan melalui pengelolaan sumber daya alam terutama melalui bidang pertambangan sebagai jawaban untuk peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD), penyedian lapangan kerja, percepatan pertumbuhan ekonomi, percepatan pembangunan desa tertinggal atau pengurangan kemiskinan perlu dicermati. Para pelaku pertambangan juga selalu memberikan ilusi-ilusi tentang kemakmuran dan kesejahteraan dari eksploitasi kekayaan alam yang dikeruk dari bumi Indonesia umumnya dan NTT pada khususnya adalah mantera yang digulirkan terus menerus untuk menghegemoni rakyat bahwa kehadiran industri di atas mutlak diperlukan.
Prinsipnya, pertambangan merusak sistem hidrologi tanah sekitarnya melalui penggalian. Masyarakat hanya akan menjadi penikmat warisan jutaan ton limbah tambang dan kerusakan lingkungan dan sosial lainnya. Apalagi dicermati bahwa lingkungan hidup di NTT diambang kegentingan akibat pemanasan global, global warming dan perubahan iklim, climate change yang terus terjadi.
Apabila kondisi ini tidak disikapi secara objektif, baik oleh pemerintah maupun masyarakat NTT, tidak heran wilayah ini akan mengalami kondisi yang mengenaaskan. 1). Bahwa bumi NTT berada di antara tiga lempeng yaitu lempeng indo-australia, lempeng pasifik dan lempeng eurosia. Karena letak ini, maka tidak heran wilayah sering terjadi bencana. 2.) Bahwa bumi NTT merupakan gugus pulau kecil yang sangat rentan dengan kehilangan pulau, 3.) Bahwa Bumi NTT tidak hanya bisa dibangun dengan pertambangan. Karena NTT bisa membangun dengan potensi alam dalam bidang pertanian dan kelautan yang terkandung di dalamnya; 3.) Bahwa bumi NTT harus dikembalikan keasriannya dengan menolak seluruh pertambangan yang sedang diproses.

About these ads

Tentang Walhi NTT

Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Nusa Tenggara Timur (WALHI NTT) sebagai forum yang fokus pada persoalan lingkungan hidup, HAM dan demokrasi dengan visi terwujudnya suatu tatanan sosial, ekonomi dan politik yang adil dan demokratis yang dapat menjamin hak-hak rakyat atas sumber-sumber kehidupan dan lingkungan hidup yang sehat. Berasas pada visi itu, WALHI NTT terus berupaya melakukan pendidikan kritis bagi rakyat bahwa hak atas lingkungan hidup adalah hak azazi manusia. Untuk itu, perlu dilakukan pengawasan dan monitoring terhadap aktifitas-aktifitas yang berpotensi merusak dan mencemari lingkungan, serta mendorong terciptanya pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) yang adil dan demokratis.
Tulisan ini dipublikasikan di Tambang. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s